Akademisi Pascasarjana UNESA Membedah Transformasi Kurikulum Nasional dalam Perspektif SDG 4
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menanggapi
dinamika perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia, para akademisi Program
Pascasarjana UNESA menggelar bedah tuntas terhadap transformasi kurikulum
nasional pada Mei 2026. Diskusi strategis ini bertujuan untuk mengukur sejauh
mana adaptasi kurikulum saat ini mampu menjawab tantangan Sustainable
Development Goals (SDG) 4, yakni menjamin kualitas pendidikan yang inklusif
dan merata. Langkah ini menjadi krusial mengingat kurikulum bukan sekadar
dokumen administratif, melainkan cetak biru bagi lahirnya generasi yang
kompetitif di kancah global namun tetap memegang teguh nilai-nilai kebangsaan.
Secara substansial, transformasi kurikulum yang sedang berlangsung
menitikberatkan pada fleksibilitas pembelajaran dan pengembangan karakter.
Akademisi S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) UNESA menilai bahwa pergeseran dari
hafalan materi ke penguasaan kompetensi adalah langkah progresif untuk
menciptakan literasi yang mendalam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa
kurikulum yang adaptif memungkinkan guru sekolah dasar untuk mengeksplorasi
potensi lokal, sehingga pendidikan tidak lagi bersifat seragam, melainkan inklusif
sesuai dengan kondisi geografis dan sosial-budaya di setiap daerah (SDG 10).
Namun, analisis kritis para pakar menyoroti tantangan besar pada aspek
implementasi dan kesiapan infrastruktur digital. Data riset menunjukkan bahwa
efektivitas kurikulum baru sangat bergantung pada kompetensi pedagogi guru
dalam mengelola kebebasan akademik. Dalam perspektif SDG 4, transformasi ini
harus dibarengi dengan pelatihan guru yang berkelanjutan agar tidak terjadi
kesenjangan kualitas antara sekolah di perkotaan dan daerah 3T. Tanpa penguatan
kapasitas pendidik, inovasi kurikulum hanya akan menjadi konsep indah di atas
kertas tanpa dampak nyata bagi perkembangan kognitif siswa.
S2 Dikdas UNESA menawarkan sudut pandang bahwa kurikulum masa depan
harus lebih berani mengintegrasikan isu keberlanjutan, seperti perubahan iklim
(SDG 13) dan perdamaian, ke dalam materi harian. Pendidikan dasar merupakan
fase formatif yang paling menentukan pola pikir individu. Dengan membedah
transformasi kurikulum ini secara akademis, UNESA berperan sebagai jembatan
antara kebijakan pemerintah dan praktik di kelas, memastikan bahwa setiap
perubahan kurikulum selalu berorientasi pada kesejahteraan mental dan masa
depan siswa, bukan sekadar pergantian istilah.
Sebagai penutup, transformasi kurikulum nasional adalah sebuah
perjalanan panjang yang menuntut konsistensi dan kolaborasi semua pihak.
Akademisi Pascasarjana UNESA berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan ini
melalui riset dan pemikiran kritis agar sejalan dengan cita-cita dunia untuk
menyediakan pendidikan berkualitas bagi semua. Dengan kurikulum yang tangguh
dan inovatif, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi emas
yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati sosial
yang kuat dalam menghadapi tantangan global 2030.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah