ChatGPT dan Tantangan Pengawasan Penggunaan Teknologi oleh Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —ChatGPT hadir sebagai teknologi kecerdasan buatan yang menawarkan banyak manfaat dalam pembelajaran siswa Sekolah Dasar, namun penggunaannya juga memunculkan tantangan serius dalam hal pengawasan. Di usia sekolah dasar, siswa masih berada pada tahap perkembangan kognitif dan emosional yang membutuhkan bimbingan intensif dari orang dewasa. Akses yang terlalu bebas terhadap teknologi berpotensi membuat siswa menerima informasi tanpa proses penyaringan yang memadai. Oleh karena itu, pengawasan penggunaan ChatGPT menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian dari guru dan orang tua.
Salah satu tantangan utama dalam pengawasan adalah kecenderungan siswa untuk terlalu bergantung pada ChatGPT dalam menyelesaikan tugas belajar. Siswa dapat dengan mudah menyalin jawaban tanpa memahami proses berpikir di baliknya, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal. Kebiasaan ini berisiko menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa. Tanpa pengawasan yang tepat, ChatGPT dapat berubah dari alat bantu belajar menjadi jalan pintas yang kurang mendidik.
Tantangan lainnya berkaitan dengan kemampuan siswa dalam membedakan informasi yang tepat dan tidak tepat. Meskipun ChatGPT dirancang untuk memberikan jawaban yang informatif, tidak semua respons selalu sesuai dengan konteks usia dan kebutuhan siswa Sekolah Dasar. Siswa yang belum memiliki literasi digital yang baik dapat menerima informasi secara mentah tanpa mempertanyakan kebenarannya. Kondisi ini menuntut peran aktif guru dalam membimbing siswa agar mampu bersikap kritis terhadap informasi digital.
Peran guru dan orang tua sangat penting dalam membangun sistem pengawasan yang efektif terhadap penggunaan ChatGPT. Guru perlu menetapkan aturan penggunaan yang jelas dan mengintegrasikan ChatGPT dalam aktivitas pembelajaran yang terarah. Orang tua juga berperan dalam mendampingi anak saat menggunakan teknologi di rumah agar tetap sesuai dengan tujuan edukatif. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci dalam menciptakan penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab.
Meskipun pengawasan penggunaan ChatGPT menghadirkan berbagai tantangan, hal ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk menolak pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Tantangan tersebut justru menjadi peluang untuk memperkuat literasi digital dan pendidikan karakter siswa Sekolah Dasar. Dengan pendampingan yang konsisten, siswa dapat belajar menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. ChatGPT akan lebih bermanfaat jika ditempatkan sebagai alat pendukung pembelajaran yang diawasi dan diarahkan secara tepat.
###
Penulis: Sabila Widyawati