Dari Ruang Kelas ke Jurnal Dunia: Perjuangan Mahasiswa S2 Dikdas Unesa Menuju Gelar Doktor di Usia Muda
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keberhasilan Annas Solihin, S.Pd., M.Pd. meraih predikat lulusan terbaik S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan IPK 4.0 menjadi bukti nyata bahwa manajemen waktu adalah kunci utama dalam mencapai target akademik global. Di usia yang masih sangat muda, Annas tidak hanya menyelesaikan studi magister, tetapi juga berhasil mengamankan kursi di program Doktoral (S3) melalui jalur fast track. Pencapaian ini sejalan dengan misi Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.
Strategi yang diterapkan
Annas Solihin jauh dari kata rumit, namun menuntut konsistensi tinggi. Ia memegang
prinsip pengerjaan tugas tanpa tunda untuk menghindari beban kognitif yang
menumpuk. Dengan menyelesaikan kewajiban akademik segera setelah diberikan, ia mampu
menjaga kesehatan mental dan fokusnya tetap prima. "Manajemen waktu adalah
warisan orang tua saya. Saya menjadwalkan segalanya, mulai dari jam menulis
artikel hingga waktu istirahat, agar tubuh tetap seimbang dalam menghadapi
tekanan akademik," ungkap Annas saat diwawancarai.
Ilmu baru yang diterapkan
Annas dalam studinya adalah metode "Belajar Sambil Berkarya". Ia
melampaui batas belajar konvensional yang hanya menghafal teori; setiap materi
yang dipelajari langsung dikonversi menjadi produk nyata. Saat mempelajari
media pembelajaran, ia segera memproduksinya dan mendaftarkan Hak Kekayaan
Intelektual (HKI). Ketika mendalami metodologi penelitian, ia langsung
menuangkannya menjadi artikel ilmiah yang berhasil menembus jurnal bereputasi
internasional Scopus. Pendekatan pragmatis ini membuat ilmu yang didapat lebih
melekat dan memberikan dampak nyata secara profesional.
Kegigihan Annas juga
terlihat dari caranya memanfaatkan waktu luang secara mikroskopis. Bagi Annas,
tidak ada waktu yang terbuang sia-sia; perjalanan menuju kampus dimanfaatkan
untuk membaca jurnal, dan saat makan pun ia kerap mencatat ide-ide riset di ponselnya.
Efisiensi waktu ini menjadi katalisator bagi kesuksesannya dalam program fast
track, di mana ia dituntut untuk memiliki ketajaman berpikir dan
produktivitas di atas rata-rata mahasiswa reguler untuk mempersiapkan diri
menjadi seorang doktor muda.
Motivasi terbesar Annas
berasal dari keinginan tulus untuk memperbaiki kualitas pendidikan di
Indonesia, khususnya di daerah asalnya, Madura. Pengalamannya di lapangan
sebagai Pembina Pramuka dan peserta Kampus Mengajar memberinya perspektif bahwa
pendidikan berkualitas hanya bisa dicapai jika guru memiliki kedalaman ilmu dan
pemahaman budaya. Gelar Doktor yang kini ia kejar adalah jembatan untuk
menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kearifan
lokal, guna memutus rantai ketakutan siswa terhadap mata pelajaran tertentu
seperti matematika.
Kisah Annas Solihin ini
menjadi pengingat bahwa prestasi akademik yang gemilang adalah hasil dari
disiplin kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Dengan dedikasi untuk
membawa isu-isu ruang kelas ke panggung jurnal dunia, ia membuktikan bahwa
pemuda Indonesia mampu memimpin transformasi pendidikan. Semangatnya untuk
terus belajar dan berkontribusi merupakan manifestasi nyata dari upaya mencapai
pendidikan berkualitas demi masa depan bangsa yang lebih cerah sesuai target
global 2030.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah