Dosen PGSD UNESA Menghidupkan Tradisi Buka Bersama Demi Penguatan Literasi Sosial SDGs di Lingkungan Kampus
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sivitas
akademika Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri
Surabaya (UNESA) mengubah persepsi publik mengenai ritual Ramadan dengan
menyelenggarakan agenda buka puasa bersama yang sarat makna edukatif di Kampus
Lidah Wetan, Senin (09/03/2026). Acara yang dihadiri oleh jajaran dosen,
mahasiswa, hingga staf kependidikan ini tidak lagi sekadar menjadi
ajang santap kuliner, melainkan bertransformasi menjadi forum diskusi strategis
mengenai implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) dalam
kurikulum dasar. Dengan mengusung konsep "Bukber Inklusif", agenda
ini bertujuan membedah tantangan pendidikan karakter di era digital sekaligus
mempererat kohesi sosial di lingkungan akademis yang kian kompetitif.
Urgensi menghidupkan kembali tradisi ini di level pascasarjana didasari
oleh kebutuhan akan ruang dialog informal yang mampu memecahkan kebuntuan
birokrasi komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Berdasarkan observasi internal
Prodi PGSD, interaksi yang hangat di luar ruang kelas terbukti meningkatkan
efektivitas bimbingan tesis dan kolaborasi riset hingga 40%. Dalam konteks SDG
poin keempat (Pendidikan Berkualitas), hubungan emosional yang stabil antara
pendidik dan calon doktor atau magister pendidikan menjadi fondasi utama bagi
terciptanya ekosistem akademik yang sehat. Para dosen PGSD UNESA memandang
bahwa tradisi buka bersama adalah instrumen "diplomasi meja makan"
yang paling efektif untuk menyelaraskan visi mencetak guru SD masa depan yang humanis.
Menariknya, agenda tahun ini secara eksplisit mengintegrasikan prinsip
SDG poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui
penerapan kebijakan Zero Waste Management. Panitia mewajibkan penggunaan
wadah makan ramah lingkungan dan melakukan audit sisa makanan untuk
didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan di sekitar wilayah Surabaya
Barat. Dr. Widowati, salah satu pakar pendidikan dasar UNESA, menekankan bahwa
dosen harus memberikan keteladanan nyata dalam praktik keberlanjutan.
Menurutnya, sebuah tradisi agama akan kehilangan esensi intelektualnya jika
tidak dibarengi dengan kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial terhadap
lingkungan kampus yang lebih hijau.
Selain aspek ekologi, pertemuan ini menjadi momentum kritis untuk
mengevaluasi capaian literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di Jawa Timur
pasca-asesmen nasional terbaru. Sambil menanti azan Magrib, para dosen dan
mahasiswa S2 terlibat dalam "Refleksi Ramadan" yang membahas strategi
pemulihan pembelajaran bagi anak-anak di daerah pinggiran. Diskusi ini menyasar
target SDG poin kesepuluh, yakni Mengurangi Ketimpangan, dengan merancang
program pengabdian masyarakat berbasis sekolah alam yang akan dieksekusi
setelah hari raya. Pendekatan ini membuktikan bahwa lingkungan kampus UNESA
mampu menyulap momen seremonial menjadi inkubator gagasan yang solutif bagi
permasalahan pendidikan di tingkat akar rumput.
Implementasi tradisi yang terstruktur ini juga berdampak signifikan pada
kesehatan mental mahasiswa pascasarjana yang seringkali terjebak dalam tekanan
beban studi yang tinggi. Dengan menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental,
tingkat stres akademik dapat direduksi melalui dukungan moral antar-rekan
sejawat dan wejangan suportif dari para promotor. Fakta menunjukkan bahwa
dukungan sosial di lingkungan kampus merupakan variabel kunci dalam mencegah burnout
pada peneliti muda. Melalui buka bersama, hierarki kaku antara guru besar dan
mahasiswa seolah melebur, menciptakan ruang aman bagi pertukaran ide yang jujur
dan inspiratif demi kemajuan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.
Sebagai penutup, langkah dosen PGSD UNESA dalam menghidupkan kembali
tradisi buka bersama dengan nafas SDGs adalah preseden baik bagi institusi
pendidikan lainnya. Keberhasilan agenda ini membuktikan bahwa nilai-nilai
spiritual dan intelektual dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dampak
nyata bagi masyarakat. Jika setiap perguruan tinggi mampu mengonversi kegiatan
rutin menjadi gerakan sosial yang terukur, maka target pembangunan
berkelanjutan pada tahun 2030 bukan lagi sekadar impian di atas kertas. Dari
Surabaya, tradisi ini mengirimkan pesan kuat bahwa pendidikan berkualitas
dimulai dari kehangatan silaturahmi yang tulus dan kesadaran kolektif untuk
terus berbagi.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah