Google Translate dalam Penelitian Etnobotani: Menerjemahkan Fungsi Tanaman Obat Lokal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal, sejalan dengan tujuan SDG 15. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui proyek etnobotani sederhana, di mana siswa meneliti tanaman obat yang ada di lingkungan sekitar mereka. Google Translate digunakan sebagai alat bantu untuk menerjemahkan nama Latin atau deskripsi ilmiah tanaman, sehingga pengetahuan lokal dapat dikaitkan dengan terminologi ilmiah yang lebih luas dan mudah diakses.
Dalam pelaksanaannya, siswa diajak mengamati tanaman obat yang dikenal di keluarga atau lingkungan sekitar, kemudian mencatat nama lokal, bagian tanaman yang digunakan, serta manfaat tradisionalnya. Selanjutnya, guru membimbing siswa mencari informasi ilmiah yang relevan dan menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan istilah-istilah penting. Proses ini mengajarkan siswa bahwa terjemahan tidak selalu bersifat harfiah, melainkan memerlukan pemahaman konteks agar maknanya tetap akurat.
Kegiatan ini melatih keterampilan riset dasar sekaligus kemampuan berbahasa siswa. Mereka belajar membandingkan hasil terjemahan mesin dengan penjelasan guru atau sumber lain, sehingga menyadari keterbatasan teknologi dan pentingnya penalaran manusia. Google Translate berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti proses berpikir kritis siswa.
Lebih jauh, proyek ini menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan alam dan budaya lokal. Siswa menyadari bahwa pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun memiliki nilai ilmiah dan dapat dipelajari secara global. Dengan bantuan terjemahan, informasi tentang tanaman obat lokal dapat dibagikan dalam konteks yang lebih luas, termasuk melalui media digital sekolah.
Melalui integrasi Google Translate dalam penelitian etnobotani, sekolah dasar tidak hanya mengajarkan sains dan bahasa, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya pelestarian pengetahuan lokal. Pembelajaran ini menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi, sekaligus memperkuat identitas budaya siswa di tengah arus globalisasi.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia