Jajaran FIP UNESA Menghapus Sekat Formalitas melalui Tradisi Berkisah pada Acara Silaturahmi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Seluruh jajaran pimpinan dan dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP UNESA) meruntuhkan dinding formalitas birokrasi melalui tradisi berkisah dalam acara silaturahmi di Gedung O5, Senin (01/04/2026). Kegiatan ini sengaja dirancang untuk mengubah kakuya protokol rapat menjadi kehangatan berbagi pengalaman personal dan spiritual pasca-Ramadhan. Dengan dihadiri oleh para akademisi dan tamu undangan, pertemuan ini bukan sekadar seremoni jabat tangan, melainkan upaya strategis untuk membangun narasi kolektif yang lebih manusiawi di lingkungan kampus.
Acara dibuka dengan syahdu oleh pembacaan ayat suci Al-Qur'an, disusul sambutan dekanat yang menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang tulus. Tradisi berkisah yang diangkat dalam momen ini menjadi instrumen untuk mendengarkan perspektif dari setiap lapisan jabatan, mulai dari dosen senior hingga tenaga kependidikan muda. Pendekatan inklusif ini merupakan implementasi nyata dari SDGs Poin 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), di mana kelembagaan yang kuat lahir dari rasa saling percaya dan keterbukaan informasi antar-anggotanya.
Pemotongan tumpeng dan sesi ceramah agama memberikan landasan filosofis bahwa setiap kisah sukses institusi bermula dari kerendahan hati untuk saling belajar. Analisis organisasi menunjukkan bahwa tradisi berbagi cerita (storytelling) di lingkungan kerja dapat meningkatkan keterikatan emosional karyawan terhadap institusi hingga 25%. Data ini relevan bagi pencapaian SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas), karena dosen yang merasa memiliki kedekatan emosional dengan institusinya akan lebih berdedikasi dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang inspiratif bagi mahasiswa.
Sesi makan bersama dan Halal Bihalal menjadi ruang di mana sekat hierarki benar-benar menghilang. Di sini, para profesor dan pimpinan universitas duduk melantai atau berkelompok tanpa jarak, mendengarkan kisah perjuangan satu sama lain dalam menjalankan tugas akademik. Dialog horizontal ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dibangun di atas tumpukan jurnal, tetapi juga di atas fondasi empati. Sinergi ini menghilangkan hambatan psikologis yang selama ini sering menghambat kolaborasi lintas departemen di universitas.
Kemeriahan semakin memuncak saat pembagian doorprize diselingi gurauan khas civitas akademika yang menyegarkan suasana. Pemberian hadiah ini menjadi simbol apresiasi terhadap setiap individu yang telah berkontribusi bagi kemajuan FIP UNESA. Melalui tawa dan kebersamaan ini, beban kerja kognitif yang tinggi di tingkat pascasarjana seolah terkalibrasi ulang. Suasana cair ini meyakinkan semua pihak bahwa di balik gelar akademik yang mentereng, terdapat pribadi-pribadi yang siap bersinergi demi visi besar bersama.
Sebagai penutup, tradisi berkisah dalam silaturahmi FIP UNESA telah berhasil mengubah budaya kerja dari sekadar instruksi menjadi kolaborasi yang bermakna. Langkah ini menjadi contoh bagi institusi pendidikan lainnya bahwa menghapus sekat formalitas adalah kunci menuju efisiensi dan kebahagiaan kerja. Dengan berakhirnya acara, jajaran FIP UNESA siap melangkah menuju target global dengan semangat transparansi dan kebersamaan yang lebih solid, membuktikan bahwa FIP handal berdampak, mempererat silaturahim untuk Unesa satu Langkah di depan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah