Kesenjangan Digital: Luka Tersembunyi yang Mengancam Masa Depan Pendidikan Kita
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kritikan ketajaman yang disampaikan oleh dosen pendidikan dasar mengenai persepsi akses digital di sekolah pelosok adalah teguran keras bagi kita semua. Di satu sisi, kami dengan bangga berdiskusi tentang transformasi pendidikan berbasis teknologi, kurikulum yang semakin modern, dan harapan agar siswa siap menghadapi abad ke-21. Namun di sisi lain, ribuan sekolah di pedalaman masih belum memiliki aliran listrik yang stabil, apalagi akses internet yang memadai. Jurang memisahkan antara sekolah di kota besar dan daerah terpencil semakin lebar, dan ini adalah ketidakadilan yang tidak boleh terus dibiarkan.
Kesenjangan ini bukan hanya soal ada atau tidaknya sinyal, melainkan dampak besar yang ditimbulkannya terhadap kualitas pembelajaran. Siswa di sekolah pelosok hanya menerima pengetahuan dari buku cetak yang kadang sudah usang, sementara teman sebaya di kota bisa mengakses ribuan sumber belajar, video pembelajaran, dan berinteraksi dengan pakar dari seluruh dunia. Akibatnya, potensi siswa di daerah tertutup, prestasi belajar tertinggal, dan mereka semakin sulit bersaing di dunia kerja kelak. Teknologi seharusnya menjadi alat penyama kedudukan, namun kini justru menjadi pembeda yang semakin tajam.
Banyak pihak sering menyalahkan kondisi geografis yang sulit atau anggaran yang terbatas sebagai alasan lambatnya perbaikan. Padahal, kekacauan ini muncul karena kurangnya prioritas dan perencanaan yang menyeluruh. Dana besar sering kali dialokasikan untuk proyek-proyek yang mencolok di pusat kota, sementara kebutuhan mendasar sekolah pelosok terabaikan. Kita lupa bahwa pendidikan adalah hak yang sama bagi setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tinggal—baik di pinggiran ibu kota maupun di pulau terluar yang sulit dijangkau.
Kritikan dari kalangan akademisi ini seharusnya menjadi pemicu perubahan, bukan sekadar wacana belaka. Pemerintah pusat dan daerah harus segera menyusun peta jalan yang jelas: mulai dari pembangunan infrastruktur dasar seperti jaringan listrik dan internet, pelatihan bagi guru agar mampu menggunakan teknologi, hingga menyediakan perangkat belajar yang terjangkau dan tahan lama. Solusi harus disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya menggunakan jaringan satelit di daerah yang sulit dijangkau kabel serat optik.
Jika kita terus mengabaikan hal ini, kita sedang membangun generasi yang terbelah. Sebagian besar siap bersaing di dunia global, sementara yang lain tertinggal jauh di belakang karena tidak pernah diberi kesempatan yang sama. Kini saatnya kita berhenti membuat janji manis dan mulai bertindak nyata. Mencontohkan setiap sekolah memiliki akses digital yang bukan merupakan kemewahan, melainkan kewajiban negara demi menjamin masa depan seluruh anak bangsa.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah