Komunitas Peduli Anak Mengampanyekan Kesetaraan Gender di Lingkungan Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ketika
kita membicarakan kesetaraan gender, diskusi sering kali tertuju pada ranah
politik, dunia kerja, atau hukum dewasa. Padahal, benih paling subur dari bias
gender justru tertanam jauh sebelum itu—di dalam ruang-ruang kelas Sekolah
Dasar (SD). Langkah Komunitas Peduli Anak yang mengampanyekan kesetaraan gender
di lingkungan pendidikan dasar bukan sekadar aksi sosial biasa; ini adalah
langkah korektif yang sangat krusial bagi masa depan tatanan sosial kita.
Secara tidak sadar, sistem pendidikan dasar kerap melanggengkan
stereotip gender (unconscious bias). Laki-laki kerap diarahkan untuk
menjadi ketua kelas atau memimpin aktivitas fisik, sementara perempuan
diidentikkan dengan kerapian, ketaatan, atau tugas-tugas domestik seperti
membersihkan papan tulis. Pembagian peran yang tampak sepele ini secara perlahan
mengondisikan pola pikir anak. Jika dibiarkan, anak perempuan tumbuh dengan
membatasi ambisi kepemimpinannya, sementara anak laki-laki terkungkung dalam
tuntutan toksik untuk selalu terlihat kuat dan menekan emosinya.
Secara konseptual, kampanye ini beriringan erat dengan Sustainable
Development Goals (SDGs) khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5
(Kesetaraan Gender). Pendidikan tidak bisa dikatakan berkualitas jika di
dalamnya masih ada diskriminasi implisiting yang membatasi potensi peserta
didik berdasarkan jenis kelamin. Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman
bagi anak untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara merdeka, tanpa
terkoyak oleh prasangka gender yang kuno.
Tentu, upaya ini bukannya tanpa tantangan. Mengubah cara pandang Masyarakat
termasuk guru dan orang tua memerlukan ketahanan dan pendekatan yang taktis.
Kurikulum formal kita sering kali belum responsif gender, di mana materi atau
ilustrasi buku ajar masih menampilkan bias peran tradisional. Oleh karena itu,
inisiatif Komunitas Peduli Anak untuk masuk melalui media cerita bergambar,
pelatihan interaktif untuk guru, dan dialog terbuka adalah strategi yang tepat
untuk memecah kekakuan tersebut secara alami.
Pada akhirnya, kesetaraan gender di sekolah dasar bukanlah agenda
radikal yang bertujuan mengubah kodrat, melainkan upaya kemanusiaan untuk
memberikan hak dan kesempatan yang adil bagi setiap anak. Menanamkan
nilai-nilai kesetaraan sejak dini adalah investasi jangka panjang. Anak-anak
yang tumbuh tanpa beban bias gender akan berkembang menjadi individu yang lebih
empati, kritis, dan siap berkolaborasi secara sehat di masyarakat modern.
Aksi yang diusung oleh Komunitas Peduli Anak ini sepatutnya menjadi
pengingat sekaligus pemantik bagi pemerintah dan lembaga pendidikan formal.
Sudah saatnya kebijakan pendidikan dasar tidak hanya berfokus pada capaian
akademis semata, tetapi juga aktif menciptakan lingkungan belajar yang
responsif gender. Sebab, dari bangku sekolah dasarlah karakter masa depan
bangsa ini dibentuk.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah