Mahasiswa Magister Merealisasikan Target SDGs melalui Publikasi Scopus Q1 Etnomatematika Keffiyeh Palestina
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penguatan kualitas
pendidikan dasar dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) memerlukan
integrasi antara pembentukan karakter dan inovasi pembelajaran berbasis budaya
global. Kajian etnomatematika hadir sebagai instrumen strategis dalam mendukung
pencapaian SDG nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG nomor 16 tentang
Kebudayaan serta Kemanusiaan. Inovasi ini dibuktikan melalui publikasi artikel
ilmiah pada Journal on Mathematics Education (JME) bereputasi Scopus Q1 oleh
mahasiswa berprestasi Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya.
Penelitian
berbasis autoetnografi tersebut mengeksplorasi berbagai konsep matematika dan
geometri yang terkandung di dalam motif-motif Keffiyeh Palestina. Pemanfaatan
artefak budaya dunia menyediakan konteks pembelajaran konkrit bagi peserta
didik di sekolah dasar. Pengembangan riset ini membuktikan bahwa materi
pelajaran eksakta dapat dipadukan dengan nilai-nilai kemanusiaan, empati,
perdamaian, serta ukhuwah Islamiyah.
Kajian
publikasi internasional tersebut memiliki keterkaitan erat dengan fokus
penelitian tesis dan pengembangan multiliterasi global. Simbol budaya Keffiyeh
dimaknai sebagai media pembelajaran inovatif guna menanamkan nilai karakter
sekaligus meningkatkan literasi akademis siswa. Perluasan sumber belajar
matematika dari artefak budaya dunia memperkaya metodologi pengajaran di
tingkat sekolah dasar.
Inovasi
pembelajaran ini melengkapi pencapaian prestasi akademik lain berupa kemenangan
pada kompetisi penulisan internasional terkait Strategi Operasional Pencegahan
Korupsi (SOPK). Riset komparatif antara Indonesia dan Filipina mengangkat
kearifan lokal sebagai fondasi pencegahan perilaku koruptif skala kecil atau academic
micro-corruption sejak dini. Pembentukan integritas moral peserta didik
mendasari penciptaan ekosistem pendidikan yang transparan dan akuntabel.
Akselerasi
teknologi digital dan keberadaan kecerdasan buatan menyajikan tantangan baru
dalam dunia pendidikan modern. Pemanfaatan teknologi secara bijak menuntut
pemeliharaan kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, serta adab terhadap
pendidik. Penjagaan integritas ilmiah menjadi tolok ukur utama dalam menjaga
kualitas proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar.
Pencapaian
target SDGs 2030 membutuhkan keterlibatan aktif akademisi dalam menghasilkan
penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Penyaluran hasil riset ke
dalam modul pelatihan guru dan media pembelajaran berbasis HTML menciptakan
pembelajaran yang inklusif serta berkeadilan. Komitmen pada integritas,
kearifan lokal, dan standar reputasi internasional memperkokoh kontribusi
Indonesia bagi kemajuan pendidikan dunia.
###
Penulis :
Kartika Natasya Kusuma Supardi.