Mahasiswa S2 Dikdas UNESA Mengkaji Kesejahteraan Guru Honorer sebagai Fondasi Keberlanjutan SDG 8
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bertepatan
dengan peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026, mahasiswa Magister
Pendidikan Dasar (S2 Dikdas) UNESA menggelar diskusi refleksi mendalam yang
menyoroti nasib guru honorer di Indonesia sebagai isu krusial dalam pembangunan
berkelanjutan. Diskusi yang berlangsung di Kampus Lidah Wetan ini bertujuan
untuk membedah kaitan erat antara kesejahteraan pendidik dengan pencapaian SDG
8, yakni penyediaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Para mahasiswa
pascasarjana ini menegaskan bahwa kualitas pendidikan dasar mustahil mencapai
standar global jika pilar utamanya yakni guru masih terjebak dalam kerentanan
finansial dan ketidakpastian status kerja.
Secara faktual, guru honorer di berbagai daerah masih menerima upah yang
jauh di bawah standar hidup layak, meskipun memikul beban kerja pedagogis yang
setara dengan guru ASN. S2 Dikdas UNESA menilai fenomena ini sebagai hambatan
serius bagi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena motivasi dan performa
mengajar sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi individu. Dalam diskusi
tersebut, terungkap data bahwa ketimpangan pendapatan di sektor pendidikan
dapat memicu penurunan minat generasi unggul untuk menjadi guru, yang dalam
jangka panjang akan mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa
depan.
Mahasiswa pascasarjana menawarkan sudut pandang bahwa guru seharusnya
tidak hanya dipandang sebagai pengabdi, tetapi juga sebagai tenaga kerja
profesional yang berhak atas perlindungan sosial dan upah yang adil. Upaya
memperjuangkan kesejahteraan guru honorer adalah manifestasi dari penerapan SDG
10 untuk mengurangi kesenjangan di dalam negeri. Tanpa adanya jaminan
kesejahteraan, inovasi pembelajaran yang diajarkan di bangku kuliah sulit
diimplementasikan secara optimal di ruang-ruang kelas sekolah dasar yang
menjadi fondasi karakter bangsa.
Analisis dalam diskusi tersebut juga menyasar pada urgensi regulasi yang
lebih berpihak pada keberlanjutan karier guru. Para mahasiswa mendorong
pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melihat upah guru bukan sebagai beban
anggaran, melainkan sebagai investasi strategis. Ketika guru mendapatkan
pekerjaan yang layak sesuai mandat SDG 8, produktivitas pendidikan akan
meningkat, yang pada akhirnya akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional
melalui lahirnya lulusan yang kompeten dan kreatif.
Sebagai penutup, refleksi Hari Buruh oleh S2 Dikdas UNESA ini menjadi
pengingat keras bahwa memuliakan guru adalah kunci memuliakan bangsa.
Kesejahteraan guru honorer bukan sekadar isu domestik kementerian, melainkan
komitmen global terhadap kemanusiaan dan keadilan sosial. Dengan
mengintegrasikan isu ini ke dalam kajian akademik, UNESA terus berdiri di garda
terdepan untuk memastikan bahwa jalan menuju pendidikan berkualitas selalu
dibarengi dengan penghargaan yang layak bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya
untuk mendidik generasi masa depan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah