Mengupas Etika dan Dampak: Pakar Kajai Penggunaan Chatbot di Kalangan Siswa SD
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, penggunaan chatbot atau program percakapan otomatis kini mulai menjangkau hingga tingkat pendidikan dasar. Hal ini memicu perhatian mendalam dari para pakar pendidikan, psikolog anak, dan ahli teknologi untuk menganalisis aspek etika, manfaat, serta risiko yang mungkin timbul jika alat ini digunakan oleh siswa Sekolah Dasar (SD). Kajian ini dilakukan guna merumuskan panduan yang aman dan tepat, agar teknologi menjadi sarana pendukung belajar, bukan justru menghambat perkembangan karakter dan kemampuan dasar anak.
Dalam analisisnya, para pakar mengakui bahwa chatbot memiliki potensi besar sebagai teman belajar yang sabar, sumber cepat, dan sarana penambah informasi. Anak-anak yang diketahui dapat bertanya tentang berbagai hal yang ingin, meminta penjelasan materi pelajaran, atau berlatih keterampilan bahasa. Namun, sisi lain yang menjadi sorotan utama adalah risiko ketergantungan yang berlebihan. Jika anak terlalu sering menggunakan chatbot untuk menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan tanpa berusaha berpikir sendiri, menganalisis kemampuan berpikir kritis, analitis, dan daya nalar mereka tidak berkembang secara optimal sesuai tahapan usia.
Masalah etika yang paling krusial adalah terkait kebenaran informasi dan keamanan data. Siswa SD berada pada fase perkembangan di mana kemampuan memilah dan menilai kebenaran informasi belum matang sepenuhnya. Ada risiko mereka menerima jawaban yang tidak akurat, tidak sesuai fakta, atau bahkan memuat muatan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Selain itu, kebiasaan berbagi informasi pribadi saat berinteraksi dengan sistem digital juga menjadi perhatian serius terkait perlindungan data dan privasi anak.
Pakar juga menyoroti dampak penggunaan chatbot terhadap kemampuan sosial dan bahasa anak. Interaksi dengan mesin bersifat kaku dan terbatas, berbeda dengan interaksi dengan guru atau teman yang mengandung nuansa emosi, nada bicara, dan bahasa tubuh. Jika waktu berinteraksi dengan mesin mendominasi, mengukur kemampuan komunikasi langsung, empati, dan keterampilan sosial anak menjadi terhambat. Nilai kejujuran akademik pun menjadi bahasan utama, di mana anak perlu memahami bahwa menyalin jawaban langsung dari mesin tanpa proses belajar adalah tindakan yang tidak tepat.
Berdasarkan hasil analisis ini, para ahli merekomendasikan perlunya aturan utama yang jelas, keterlibatan aktif orang tua dan guru, serta pengembangan fitur khusus chatbot ramah anak. Penggunaan sebaiknya bersifat terbatas, terarah, dan selalu didampingi orang dewasa. Tujuannya adalah menanamkan pemahaman bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti usaha belajar. Dengan bimbingan yang tepat, generasi muda dapat melek teknologi sekaligus tetap memiliki fondasi akhlak dan kecerdasan yang kuat.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah