Pakar Pendidikan Menyoroti Tantangan Etika Penggunaan Chatbot bagi Siswa Sekolah Dasar di Era Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sejumlah pakar pendidikan dan teknologi di Jakarta memperingatkan potensi risiko etika terkait maraknya penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) oleh siswa sekolah dasar di lingkungan sekolah maupun rumah selama bulan ini, seiring dengan kemudahan akses platform teknologi. Mereka mendesak agar pengawasan ketat dan edukasi literasi digital segera diterapkan guna mencegah ketergantungan serta perilaku tidak jujur akademis sejak dini. Intervensi ini dianggap krusial untuk memastikan teknologi berfungsi sebagai sarana belajar, bukan jalan pintas yang merugikan perkembangan kognitif anak.
Tren penggunaan chatbot dipicu oleh kemudahan aksesibilitas aplikasi AI yang sering digunakan siswa untuk menjawab tugas sekolah secara instan. Fenomena ini menciptakan paradoks; di satu sisi, AI menawarkan efisiensi pembelajaran, namun di sisi lain, berisiko mengikis kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas karya siswa. Data menunjukkan bahwa paparan teknologi tanpa pendampingan bagi kelompok usia dini berpotensi menurunkan daya analisis anak, karena mereka cenderung memilih jawaban "siap saji" daripada melalui proses kognitif yang seharusnya mereka lakukan dalam belajar.
Pakar menyoroti bahwa masalah utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada pemahaman etika penggunaannya. "Siswa SD belum memiliki kematangan kognitif untuk membedakan antara bantuan belajar dan plagiarisme," ujar seorang pengamat kebijakan pendidikan. Oleh karena itu, chatbot sebaiknya diposisikan sebagai tutor pendamping, bukan pengganti peran berpikir siswa, sehingga nilai integritas akademik dapat tertanam kuat sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar.
Diskusi mengenai etika ini sangat relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni menjamin pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata. Literasi digital dan etika AI merupakan kompetensi krusial di abad ke-21 yang harus diajarkan. Jika siswa mampu menggunakan teknologi secara etis, mereka tidak hanya menjadi konsumen cerdas, tetapi juga pelaku inovasi masa depan yang bertanggung jawab, sejalan dengan visi global untuk pendidikan yang memberdayakan manusia.
Langkah preventif yang diusulkan meliputi kolaborasi intensif antara orang tua dan guru dalam menyusun batasan akses. Institusi pendidikan didorong untuk menciptakan kebijakan penggunaan AI yang jelas, seperti melatih siswa untuk melakukan verifikasi informasi dan mengakui sumber AI dalam tugas mereka. Pendekatan "manusia sebagai pengendali" tetap menjadi fondasi utama dalam memastikan bahwa kecanggihan teknologi tetap menjadi pelayan bagi perkembangan intelektual dan karakter anak.
Pada akhirnya, chatbot adalah alat yang netral, dan dampaknya sangat bergantung pada cara kita mengarahkan generasi muda. Dengan edukasi yang tepat dan pengawasan yang suportif, kita dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan kecakapan digital siswa. Membangun fondasi etika sejak dini adalah investasi terpenting untuk memastikan kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan pembentukan karakter bangsa yang unggul di masa depan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah