Pakar Pendidikan Merancang Sekolah Ramah Anak di Daerah Terpencil demi Mencapai SDG 4
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam
upaya memutus mata rantai ketimpangan akses pembelajaran di pelosok negeri, tim
pakar pendidikan dasar dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) merancang model
Sekolah Ramah Anak (SRA) khusus untuk kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal
(3T). Langkah strategis ini digagas sebagai merespons masih tingginya tantangan
geografis dan minimnya fasilitas belajar yang aman serta menyenangkan bagi
anak-anak di daerah terpencil. Melalui perancangan kurikulum dan desain
lingkungan belajar yang adaptif, inovasi ini diharapkan menjadi jawaban konkret
atas kebutuhan pendidikan yang adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Rancangan sekolah ramah anak ini dikembangkan berdasarkan analisis fakta
lapangan yang menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan konvensional sering kali
tidak relevan dengan kondisi sosial-budaya masyarakat pedalaman. Para pakar
menekankan pentingnya fleksibilitas metode mengajar, integrasi kearifan lokal,
serta jaminan perlindungan fisik dan psikologis bagi peserta didik. Selain
membangun ruang kelas yang aman dan inklusif, model ini juga membekali para
pendidik lokal dengan strategi pembelajaran berbasis permainan (play-based
learning) yang terbukti efektif menumbuhkan motivasi belajar anak usia
sekolah dasar.
Inisiatif akademis ini berorientasi langsung pada pemenuhan target SDG 4
(Quality Education), khususnya dalam menjamin pendidikan berkualitas
yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat
bagi semua anak tanpa terkecuali. Dengan menghadirkan lingkungan sekolah yang
ramah, sehat, dan bebas dari tindakan kekerasan maupun diskriminasi, anak-anak
di daerah terpencil mendapatkan hak dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara
optimal. Model ini menjadi instrumen penting dalam menjembatani kesenjangan
mutu pendidikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Sejumlah pengamat dan praktisi pendidikan dasar menilai bahwa cetak biru
(blueprint) Sekolah Ramah Anak di daerah 3T ini menawarkan solusi
holistik yang dapat direplikasi oleh pemerintah daerah. Keunggulan model ini
terletak pada keterlibatan aktif masyarakat lokal dan orang tua dalam menjaga
ekosistem belajar yang kondusif. Sinergi antara kepakaran akademis, kebijakan
pemerintah, dan partisipasi komunitas dinilai sebagai kunci utama dalam
memastikan keberlanjutan program pendidikan di kawasan terisolasi.
Perancangan Sekolah Ramah Anak di pelosok Nusantara ini menegaskan bahwa
setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk menikmati masa kecil yang
indah dan bermakna melalui pendidikan berkualitas. Langkah nyata para pakar ini
menjadi pemantik semangat untuk terus mengawal agenda pembangunan berkelanjutan
PBB hingga tahun 2030. Dengan komitmen bersama, mewujudkan sekolah yang aman,
inklusif, dan menginspirasi di seluruh pelosok negeri bukan lagi sekadar
impian, melainkan kenyataan yang sedang dibentuk hari ini.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah