Para Peneliti Menemukan Ketimpangan Teknologi pada Sekolah Dasar Pedesaan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Masyarakat
pesisir dan pedalaman Indonesia kembali dihadapkan pada realitas pahit
kesenjangan pendidikan. Sepanjang awal tahun ini, konsorsium peneliti
pendidikan independen mengungkapkan temuan mengejutkan: lebih dari 60% Sekolah
Dasar (SD) di kawasan pedesaan Jawa dan luar Jawa mengalami ketimpangan akses
teknologi yang signifikan dibandingkan wilayah perkotaan. Penelitian mendalam
yang dilakukan melalui observasi lapangan dan survei nasional ini membeberkan
bagaimana keterbatasan infrastruktur, minimnya perangkat komputer, serta
lambatnya jaringan internet memperlambat daya saing murid-murid di pelosok
negeri sejak usia dini.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan ini bukan sekadar
masalah ketersediaan gawai, melainkan krisis keadilan belajar. Di saat siswa SD
di kota besar sudah terbiasa dengan pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI)
dan literasi digital tingkat lanjut, anak-anak di desa masih harus bergantian
menggunakan satu laptop tua untuk satu sekolah. Kondisi ini memperjelas adanya
disparitas kualitas SDM yang terstruktur. Tanpa intervensi nyata, ketimpangan
teknologi ini akan terus menjebak anak-anak pedesaan dalam siklus kemiskinan
informasi dan ketertinggalan ekonomi.
Dari sudut pandang global, ketimpangan ini menjadi lampu merah bagi
komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Kondisi ini secara langsung mencoreng SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) yang
mengamanatkan pendidikan inklusif dan merata, serta SDG 10 (Berkurangnya
Kesenjangan). Bagaimana mungkin kita dapat mencetak Generasi Emas jika fondasi
dasar pendidikan di tingkat SD masih terfragmentasi oleh letak geografis?
Mengabaikan digitalisasi pedesaan sama saja dengan membiarkan potensi jutaan
anak bangsa terbuang sia-sia.
Pemerintah bersama pihak swasta tidak boleh lagi menjadikan kendala
geografis sebagai alasan klasik. Akselerasi pemerataan infrastruktur digital,
distribusi perangkat yang tepat sasaran, serta pelatihan berkelanjutan bagi
guru-guru di desa harus dijadikan prioritas utama dalam anggaran pendidikan.
Transformasi digital tidak boleh berhenti sebagai jargon di kota-kota besar,
melainkan harus hadir sebagai hak dasar yang dinikmati setiap anak di pelosok
Nusantara.
Sudah saatnya kita bergerak melampaui janji-janji manis reformasi
pendidikan. Keberhasilan pembangunan bangsa tidak diukur dari seberapa canggih
sekolah terbaik di ibu kota, melainkan dari seberapa berdaya sekolah paling
terisolasi di ujung negeri. Jika jurang teknologi ini tidak segera dijembatani,
maka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya akan menjadi slogan
kosong di dalam buku teks sekolah.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah