Prodi S2 Dikdas UNESA Mentransformasi Nur Aini Ochtafiya Menargetkan Diseminasi Modul Ramah Iklim demi Sukseskan Generasi Emas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) Pascasarjana, Nur Aini
Ochtafiya, secara progresif menargetkan penyebaran masif modul inovatif
"Sekolah Ramah Iklim" berbasis STEAMS Aqua Farming ke seluruh
penjuru negeri menjelang pertengahan tahun ini. Langkah strategis tersebut
disuarakan usai dirinya sukses menyabet Medali Emas dalam ajang Olympiciad VII
Tingkat Nasional di Makassar beberapa waktu lalu. Target diseminasi ini
dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan kurikulum, melainkan sebagai
kontribusi nyata akademisi Dikdas dalam mengawal pencapaian target Sustainable
Development Goals (SDGs) secara nasional hingga tahun 2030, sekaligus
menyiapkan fondasi karakter siswa sekolah dasar menyambut fajar Generasi Emas
2045.
Nur Aini menegaskan bahwa visi besar dari
perluasan modul juara ini berpusat pada prinsip ATM, yaitu Amati, Tiru, dan
Modifikasi. Melalui pendekatan fleksibel tersebut, setiap instansi sekolah
dasar di Indonesia memiliki ruang gerak adaptif untuk menyesuaikan implementasi
perangkat ajar dengan karakteristik lingkungan, keterbatasan sumber daya, serta
keunikan kebutuhan peserta didik masing-masing. Sudut pandang ini menjadi
antitesis dari model replikasi kurikulum konvensional yang kaku, sehingga
esensi pendidikan lingkungan yang berkelanjutan tetap dapat membumi tanpa
kehilangan ruh orisinalitasnya.
Secara metodologis, struktur inti modul ini
tetap mempertahankan integrasi lintas disiplin ilmu STEAMS (Science,
Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Social) yang dipadukan
dengan pisau analisis Design Thinking. Pola intervensi pedagogis ini
selaras dengan pemenuhan target SDG 4 (Quality Education), di mana ruang
kelas ditransformasikan dari tempat transfer ilmu pasif menjadi laboratorium
inovasi yang hidup. Ketika siswa di berbagai daerah mulai dilatih memecahkan
masalah ekologi nyata di sekitarnya, ekosistem pendidikan Indonesia secara
otomatis naik kelas menjadi lebih berdaya saing global.
Lebih jauh, dampak multiplikasi dari
penyebaran modul ramah iklim ini menjadi instrumen krusial dalam mengakselerasi
SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 13 (Climate
Action) di level akar rumput. Fakta bahwa anak-anak usia dini diajarkan
mengelola limbah domestik dan efisiensi air secara mandiri akan melahirkan
budaya peduli lingkungan yang menetap hingga mereka dewasa. Pola pembiasaan
sosiologis inilah yang diyakini menjadi modal utama bangsa untuk mencetak
pasokan sumber daya manusia yang unggul, humanis, dan berwawasan ekosistem
berkelanjutan pada dua dekade mendatang.
Keberhasilan diseminasi riset mahasiswa S2
Dikdas ini pada akhirnya menjadi tonggak penting bagi reformasi wajah
pendidikan nasional yang responsif terhadap tantangan abad ke-21. Modul
"Sekolah Ramah Iklim" telah membuktikan bahwa karya ilmiah pascasarjana
tidak boleh mandek menjadi tumpukan kertas di perpustakaan, melainkan harus
menjelma menjadi gerakan transformasi karakter. Dukungan penuh dari seluruh
pemangku kebijakan sangat dinantikan agar inovasi berbasis SDGs ini dapat
segera diadopsi secara nasional, demi memastikan anak-anak Indonesia tumbuh
menjadi agen perubahan yang siap menjaga kelestarian bumi pertiwi @teacherfiya.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah