Prodi S2 Dikdas UNESA Merevitalisasi Pendidikan Dasar melalui Perspektif Etnopedagogi yang Berkelanjutan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Studi S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan Mimbar Ilmiah bertajuk transformasi pendidikan berbasis budaya lokal di Ruang seminar O1 pada Jum’at (27/03/2026). Diskusi ini menghadirkan Bapak M. Taufik Hidayat, S.Pd., dari Majelis Pertimbangan Dewan Kesenian Jawa Timur sebagai pemateri utama, serta dipandu oleh Ibu Dr. Ari Metalin Ika Puspita, M.Pd., dosen S2 Dikdas selaku moderator. Forum ini bertujuan menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi utama dalam mendidik generasi masa depan yang memiliki jati diri kuat di tengah arus globalisasi yang kian kencang.
Dalam paparannya, BapakTaufik Hidayat menekankan bahwa etnopedagogi bukan sekadar mengajarkan kesenian tradisional, melainkan mengintegrasikan filosofi budaya ke dalam praktik instruksional di kelas. Strategi ini menjadi solusi atas degradasi karakter yang sering terjadi akibat pemisahan kurikulum dengan realitas budaya siswa. Pendekatan ini secara langsung mendukung SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana pendidikan harus relevan dengan konteks sosial budaya lokal agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang bermakna dan inklusif bagi setiap anak didik.
Data lapangan menunjukkan bahwa literasi budaya di tingkat pendidikan dasar mengalami tantangan besar dengan masuknya budaya digital yang seragam. Dr. Ari Metalin selaku moderator memberikan analisis mendalam bahwa sinkronisasi antara konten akademik dan nilai lokal dapat meningkatkan keterikatan emosional siswa terhadap materi pelajaran hingga 30%. Hal ini sejalan dengan SDGs Poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), khususnya dalam upaya melindungi dan menjaga warisan budaya bangsa melalui jalur pendidikan formal yang terstruktur dan inovatif.
Perspektif etnopedagogi ini juga memandang guru sebagai fasilitator kebudayaan yang bertugas mentransfer nilai kearifan, seperti gotong royong dan etika kesantunan, ke dalam metode pembelajaran modern. Integrasi ini dipercaya mampu menciptakan sistem pendidikan yang lebih humanis dan tidak hanya berfokus pada hasil kognitif semata. Dengan mengadopsi budaya lokal, sekolah berperan aktif dalam membangun ketahanan budaya generasi muda, sehingga mereka mampu menjadi warga global yang tetap berpijak pada akar tradisi Nusantara.
Mimbar ilmiah ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi seni untuk menyusun perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal. Sinergi ini merupakan bentuk nyata dari SDGs Poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), di mana kerja sama lintas sektor menjadi kunci keberhasilan transformasi pendidikan. Diskusi interaktif yang terbangun memperlihatkan antusiasme mahasiswa pascasarjana dalam merancang riset-riset baru yang mengangkat potensi lokal sebagai materi ajar yang kompetitif di tingkat internasional.
Sebagai penutup, transformasi pendidikan dasar melalui etnopedagogi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara kultural. Keberlanjutan peradaban bangsa sangat bergantung pada sejauh mana pendidikan mampu melestarikan nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman. Melalui momentum ini, S2 Dikdas UNESA kembali menegaskan posisinya sebagai pionir dalam pengembangan inovasi pendidikan yang berbasis pada kekayaan budaya Indonesia demi masa depan dunia yang lebih berwarna dan berkelanjutan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah