Program Studi PGSD UNESA Mengakselerasi Transformasi Pendidikan Sekolah Dasar Berbasis Kecerdasan Buatan dan Kearifan Lokal di Kabupaten Blitar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan kegiatan Seminar Nasional dan
Workshop Pembelajaran di Aula SMAN 1 Talun, Kabupaten Blitar, pada Sabtu, 8
Agustus 2026. Forum ilmiah yang berkolaborasi dengan Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI) Kabupaten Blitar ini menghadirkan ratusan guru, dosen, serta
praktisi pendidikan untuk memperkuat kapasitas pedagogis tenaga pendidik di
tingkat dasar.
Kegiatan ini
mengusung fokus utama pada integrasi pembelajaran mendalam (deep learning),
pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan penguatan
nilai kearifan lokal. Pendekatan konseptual ini dirancang untuk mencetak
pendidik yang adaptif, inovatif, serta berorientasi pada prinsip pembelajaran
sepanjang hayat bagi para peserta didik.
Forum ilmiah
tersebut dihadiri oleh jajaran akademisi dan pejabat daerah, antara lain Bupati
Blitar Drs. H. Rijanto, M.M., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Agus
Santoso, S.Sos., M.Si., serta Ketua PGRI Kabupaten Blitar Drs. Susanto. Turut
hadir pula deretan pakar pendidikan dari UNESA seperti Prof. Hendratno, M.Hum.,
Prof. Dr. Wiryanto, M.Si., Prof. Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd., dan
Koordinator Prodi PGSD UNESA Dr. Putri Rachmadyanti, S.Pd., M.Pd.
Para peserta
mendapatkan pelatihan intensif mengenai penyusunan media pembelajaran
interaktif berbasis teknologi mutakhir, seperti pembuatan e-book edukatif
berbasis AI, pengembangan LKPD etnomatematika, hingga pendampingan skrining
literasi neurodiversitas. Pelatihan ini juga mencakup materi penguatan
inklusivitas kelas, mitigasi bencana, serta strategi pencegahan perundungan
berbasis media digital.
Penyelenggaraan
acara ini mendukung ketercapaian Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable
Development Goals / SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Melalui peningkatan kompetensi guru dan integrasi teknologi inklusif, kegiatan
ini mendorong terciptanya lingkungan belajar yang adil, merata, dan responsif
terhadap dinamika zaman.
Melalui
fasilitas modul pelatihan dan sertifikat 32 JP, para pendidik diharapkan mampu
menerapkan model pembelajaran baru ini secara berkelanjutan di sekolah
masing-masing. Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini
menjadi langkah nyata dalam memajukan kualitas pendidikan dasar yang berdaya
saing global tanpa mencabut akar budaya lokal.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma
Supardi.