S2 Dikdas Unesa Bedah Formula Grafik Fry untuk Tingkatkan Keterbacaan Buku Digital Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program
Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) FIP Unesa sukses menggelar webinar Mimbar
Ilmiah bertajuk "Kemampuan Pemahaman Siswa pada Buku Digital dengan
Analisis Keterbacaan Fry" pada Sabtu (28/02/2026). Acara yang berlangsung
secara virtual ini menghadirkan pakar literasi sekaligus dosen S2 Dikdas FIP
Unesa, Prof. Dr. Hendratno, M.Hum., sebagai narasumber utama. Dipandu oleh
moderator Dr. Nurul Istiq'faroh, M.Pd., diskusi ini menyoroti tantangan krusial
dalam dunia pendidikan digital: bagaimana memastikan teks dalam buku digital
benar-benar selaras dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar.
Dalam paparannya, Prof. Hendratno menekankan bahwa digitalisasi buku
teks sering kali mengabaikan aspek keterbacaan (readability). Beliau
menjelaskan bahwa buku digital bukan sekadar memindahkan teks cetak ke layar,
melainkan harus melalui kurasi bahasa yang ketat agar tidak menimbulkan beban
kognitif berlebih pada anak. Penggunaan Grafik Fry menjadi solusi ilmiah untuk
mengukur tingkat kesulitan wacana berdasarkan jumlah suku kata dan kalimat. Hal
ini selaras dengan target SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana akses
terhadap materi ajar yang tepat merupakan hak dasar setiap peserta didik.
Analisis mendalam yang disampaikan dalam webinar ini mengungkap fakta
bahwa banyak buku digital saat ini memiliki tingkat keterbacaan yang terlalu
tinggi (sulit) bagi rata-rata siswa di kelasnya. Prof. Hendratno memaparkan
data bahwa ketidaksesuaian level teks dapat menurunkan minat baca dan daya
serap informasi siswa hingga 40%. Dengan menggunakan instrumen Grafik Fry, para
guru dan pengembang bahan ajar dapat secara presisi menentukan apakah sebuah
buku digital sudah layak konsumsi atau justru perlu simplifikasi bahasa agar
pemahaman siswa lebih optimal.
Dr. Nurul Istiq'faroh selaku moderator memperdalam diskusi dengan
menyoroti relevansi isu ini terhadap kompetensi literasi nasional. Beliau
mencatat bahwa penguatan literasi digital harus dibarengi dengan kualitas
konten yang terukur. Analisis keterbacaan Fry dipandang sebagai
"kompas" bagi para mahasiswa S2 Dikdas untuk menghasilkan produk
penelitian berupa bahan ajar digital yang lebih aplikatif dan ramah otak anak.
Sinergi antara teknologi dan linguistik inilah yang akan menjadi penentu keberhasilan
transformasi pendidikan di masa depan.
Struktur Mimbar Ilmiah ini pun memberikan ruang bagi para praktisi
pendidikan untuk berdiskusi mengenai hambatan teknis di lapangan. Para peserta
yang terdiri dari mahasiswa, guru, dan peneliti menyepakati bahwa evaluasi
terhadap buku digital harus dilakukan secara berkala. Kesadaran untuk melakukan
uji keterbacaan sebelum materi dipublikasikan secara luas dianggap sebagai
langkah preventif untuk mencegah degradasi pemahaman siswa akibat teks yang
terlalu kompleks atau tidak terstruktur dengan baik.
Sebagai penutup, webinar ini menegaskan komitmen S2 Dikdas Unesa dalam
memimpin inovasi pendidikan dasar berbasis data dan teori yang kuat. Melalui
penguasaan analisis keterbacaan Fry, diharapkan para pendidik mampu menyediakan
sumber belajar digital yang tidak hanya canggih secara tampilan, tetapi juga
efektif secara substansi. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya
generasi literat yang mampu berpikir kritis dan kompetitif di kancah global
sesuai dengan semangat berkelanjutan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah