S2 Dikdas UNESA Membawa Misi Pendidikan Pendidik Sekolah Dasar Harus Mentransformasi Makna Kurban Menjadi Aksi Gotong Royong demi Target SDGs 4
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Momentum
Iduladha tidak boleh lagi sekadar dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan
tahunan yang mekanis di lingkungan sekolah. Memasuki pertengahan tahun ini,
civitas akademika S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) secara kritis mendorong
rekonstruksi esensi ibadah kurban ke dalam ruang kelas sebagai motor penggerak
Kurikulum Merdeka. Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan krisis empati
sosial di kalangan generasi alpha melalui penguatan dimensi gotong royong
Profil Pelajar Pancasila yang diintegrasikan langsung dengan agenda Sustainable
Development Goals (SDGs).
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengajaran nilai kurban di sekolah
dasar sering kali terjebak pada seberapa besar jumlah sumbangan dana atau aspek
seremonial semata. Padahal, jika didekonstruksi secara mendalam, esensi kurban
adalah manifestasi dari pengorbanan egosentrisme menuju kesadaran kolektif.
Sudut pandang ini selaras dengan target SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG
10 (Berkurangnya Kesenjangan), di mana sekolah berfungsi sebagai laboratorium
sosial yang menumbuhkan nalar empati anak untuk peka terhadap ketimpangan di
sekitarnya sejak usia dini.
Implementasi dekonstruksi makna kurban ini diwujudkan melalui proyek
kontekstual yang melibatkan siswa secara aktif dalam seluruh proses sosialnya.
Anak-anak tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan belajar mengorganisasi
distribusi, memetakan warga sekolah yang paling membutuhkan, hingga
mengampanyekan penggunaan wadah ramah lingkungan (penerapan SDG 12: Konsumsi
dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Aktivitas sosiologis ini secara otomatis
menghidupkan dimensi gotong royong dalam Profil Pelajar Pancasila, di mana
siswa mengasah kecerdasan interpersonal dan kepedulian lintas kultural.
Integrasi nilai spiritual lokal dengan target global ini terbukti mampu
mendobrak batasan literasi dasar siswa menuju literasi kritis. Ketika siswa
diajak berdiskusi tentang alasan di balik berbagi daging kurban kepada
masyarakat marginal, mereka sedang dilatih menganalisis keadilan sosial yang
menjadi inti dari Sila Kelima Pancasila. Model pembelajaran berbasis empati ini
mengubah paradigma kaku di sekolah dasar, memastikan bahwa pendidikan karakter
tidak lagi sekadar hafalan teori di atas kertas, melainkan aksi nyata yang
berdampak pada kesejahteraan komunitas.
Melalui dekonstruksi makna kurban yang transformatif, sekolah dasar
dipastikan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis,
tetapi juga kaya secara emosional. Kita harus menyadari bahwa masa depan
keberlanjutan bangsa berada di tangan anak-anak yang tahu cara berkolaborasi
dan berbagi. Oleh karena itu, sudah saatnya para pendidik Dikdas mengambil
peran strategis untuk menjadikan setiap momentum hari besar keagamaan sebagai
batu pijakan utama dalam mewujudkan keadilan sosial dan target pembangunan
berkelanjutan 2030.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah