S2 Dikdas UNESA Mengakselerasi Literasi Digital Guru demi Menghapus Kesenjangan Pendidikan di Daerah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program
Studi S2 Pendidikan Dasar (Dikdas) UNESA secara masif mempromosikan literasi
digital sepanjang Mei 2026 sebagai strategi utama untuk memangkas jurang
kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal. Langkah ini
menjadi respons kritis terhadap data disparitas akses teknologi yang masih
menghambat pemerataan kompetensi guru di berbagai pelosok Indonesia. Melalui
integrasi kurikulum berbasis teknologi, UNESA berkomitmen mewujudkan SDG 4
(Pendidikan Berkualitas) dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan
memastikan setiap pendidik sekolah dasar memiliki kecakapan digital yang
setara.
Kesenjangan pendidikan di daerah sering kali berakar pada minimnya
literasi teknologi, bukan sekadar ketiadaan perangkat keras. Mahasiswa dan
dosen S2 Dikdas UNESA terjun langsung memberikan pendampingan strategis
mengenai pemanfaatan platform pembelajaran daring dan pengelolaan sumber
belajar digital yang efisien. Fakta menunjukkan bahwa guru yang literat secara
digital mampu menciptakan lingkungan kelas yang lebih dinamis dan inklusif,
sehingga siswa di daerah terpencil tetap mendapatkan kualitas materi yang sama
bobotnya dengan siswa di kota besar.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, program ini menekankan pada
"Etika dan Keamanan Digital" sebagai pilar baru dalam pedagogi
modern. Dalam perspektif opini akademik, literasi digital adalah kunci untuk
membuka pintu ekonomi kreatif dan inovasi bagi generasi masa depan di daerah.
Dengan membekali guru-guru SD dengan kemampuan analisis informasi dan
penggunaan AI secara bijak, S2 Dikdas UNESA sedang membangun fondasi bagi
masyarakat informasi yang tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi.
Investasi pada literasi digital guru merupakan solusi jangka panjang
yang jauh lebih murah dibandingkan membiarkan ketertinggalan pendidikan terus
berlarut. S2 Dikdas UNESA memandang bahwa digitalisasi bukan untuk mengganti
peran guru, melainkan memperkuat kapasitas mereka dalam menjangkau keterbatasan
ruang dan waktu. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi di lapangan ini
diharapkan mampu menciptakan efek domino, di mana guru yang telah terlatih akan
menjadi mentor bagi kolega di lingkungannya, menciptakan ekosistem belajar yang
mandiri dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, upaya S2 Dikdas UNESA dalam mempromosikan literasi
digital ini adalah mandat moral untuk memastikan tidak ada anak bangsa yang
tertinggal dalam arus globalisasi. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok
ukur sejauh mana perguruan tinggi mampu mentransformasi teori menjadi solusi
nyata bagi persoalan bangsa. Dengan semangat kolaboratif, pendidikan dasar
Indonesia di daerah kini memiliki peluang besar untuk bangkit dan sejajar dalam
panggung keunggulan global.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah