S2 Dikdas UNESA Mengintegrasikan STEAM dan SDGs Demi Meningkatkan Ekoliterasi Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program
Studi Magister Pendidikan Dasar (S2 Dikdas) Universitas Negeri Surabaya sukses
menyelenggarakan webinar bertajuk "Mimbar Ilmiah" yang mengupas
tuntas integrasi metode STEAM dan SDGs dalam proyek kota berkelanjutan. Acara
virtual ini menghadirkan Guru Besar S2 Dikdas UNESA, Prof. Dr. Suryanti, M.Pd.,
sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Dr. Farida Istianah, S.Pd., M.Pd.,
sebagai moderator. Diskusi ini menjadi sangat krusial karena menyoroti peran
strategis pendidikan dasar dalam membentuk karakter siswa yang sadar lingkungan
melalui pendekatan multidisiplin, sekaligus menjawab tantangan global dalam
mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 dan
ke-11.
Dalam paparannya, Prof. Suryanti menekankan bahwa integrasi STEAM (Science,
Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) bukan sekadar tren
akademik, melainkan kebutuhan darurat untuk meningkatkan ekoliterasi siswa.
Penggunaan proyek "Kota Berkelanjutan" sebagai media ajar
memungkinkan siswa SD memahami konsep tata ruang yang ramah lingkungan dan
pengelolaan energi terbarukan secara praktis. Data riset menunjukkan bahwa
pembelajaran berbasis proyek yang dikaitkan dengan SDGs mampu meningkatkan
pemahaman ekologis siswa hingga 45%. Melalui simulasi membangun kota masa
depan, siswa diajak berpikir kritis untuk mencari solusi atas masalah polusi
dan keterbatasan lahan di perkotaan.
Moderator diskusi, Dr. Farida Istianah, menggarisbawahi bahwa mahasiswa
pascasarjana harus menjadi pelopor dalam mendesain perangkat pembelajaran yang
adaptif. S2 Dikdas UNESA mendorong para guru dan calon magister untuk tidak
lagi mengajar secara teoretis, melainkan melalui lensa keberlanjutan. Dalam
konteks SDG nomor 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), pendidikan dasar
memegang kunci utama untuk menanamkan nilai-nilai hidup berdampingan dengan
alam. Jika ekoliterasi tidak diajarkan sejak dini, target Indonesia untuk
menciptakan lingkungan hunian yang sehat dan tangguh pada tahun 2030 akan sulit
tercapai akibat kurangnya kesadaran kolektif masyarakat.
Analisis mendalam dalam webinar ini juga mengungkap bahwa hambatan
terbesar implementasi STEAM di sekolah dasar adalah ketidaksiapan perangkat
ajar yang sinkron dengan isu lokal. Prof. Suryanti menawarkan solusi berupa
pengembangan modul berbasis potensi daerah yang mengacu pada 17 tujuan
pembangunan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan bahan daur ulang dalam proyek
engineering dan estetika seni dalam desain kota, siswa belajar bahwa inovasi
teknologi harus selalu selaras dengan kelestarian ekosistem. Sinergi ini
membuktikan bahwa pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang mampu menjawab
tantangan zaman tanpa merusak masa depan bumi.
Antusiasme peserta yang terdiri dari mahasiswa S2, praktisi pendidikan,
dan peneliti menunjukkan bahwa kebutuhan akan pembaruan metodologi pengajaran
di tingkat SD sangatlah tinggi. Webinar ini menyimpulkan bahwa penguatan
ekoliterasi melalui STEAM merupakan investasi jangka panjang untuk memutus
rantai degradasi lingkungan. Fakta di lapangan membuktikan bahwa sekolah yang
aktif menerapkan proyek berbasis SDGs memiliki siswa dengan tingkat empati
sosial dan tanggung jawab lingkungan yang lebih unggul. Hal ini menjadi bukti
nyata kontribusi akademisi UNESA dalam mengawal transformasi pendidikan
nasional menuju standar global yang lebih manusiawi.
Sebagai penutup, Mimbar Ilmiah ini menegaskan posisi S2 Dikdas UNESA
sebagai pusat inovasi pendidikan dasar yang berkomitmen penuh terhadap agenda
SDGs. Integrasi STEAM bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi pendidik
masa kini untuk menyiapkan pemimpin masa depan yang tangguh secara intelektual
dan bijak secara ekologis. Melalui kolaborasi antara guru besar, dosen, dan
mahasiswa pascasarjana, langkah kecil dari ruang kelas sekolah dasar ini
diharapkan mampu memberikan dampak besar bagi keberlanjutan peradaban.
Indonesia yang lebih hijau dimulai dari kurikulum yang cerdas dan pendidik yang
bervisi jauh ke depan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah