Sekolah Dasar Harus Menanamkan Nilai Karakter di Tengah Krisis Moral demi Target SDG 4
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
gempuran arus digitalisasi dan maraknya krisis moral di kalangan usia muda,
para pendidik serta akademisi Program Studi Magister (S2) Pendidikan Dasar
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menegaskan mendesaknya penguatan pendidikan
karakter di sekolah dasar. Langkah serentak ini diambil sebagai respons atas meningkatnya
kasus perundungan, degradasi etika, serta penurunan rasa empati antar siswa di
lingkungan sekolah. Menanamkan fondasi moral yang kokoh sejak dini dinilai
bukan lagi sekadar pilihan kurikulum tambahan, melainkan kebutuhan mendesak
untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kecerdasan akademik tanpa diimbangi
oleh kecerdasan moral hanya akan melahirkan individu yang rentan terhadap
perilaku destruktif. Melalui pendekatan kualitatif dan pengamatan mendalam di
berbagai sekolah mitra, para peneliti S2 Dikdas menemukan bahwa pembentukan
karakter paling efektif terjadi ketika nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan
toleransi diintegrasikan ke dalam interaksi harian, bukan sekadar teori
hafalan. Penggunaan metode pembelajaran kontekstual dan keteladanan langsung
dari guru terbukti mampu menumbuhkan kesadaran etis serta empati sosial pada
anak usia sekolah dasar secara signifikan.
Penguatan pendidikan karakter ini berikatan erat dengan pencapaian SDG 4
(Quality Education), yang tidak hanya menekankan pada literasi dan
numerasi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik yang inklusif,
damai, dan bertanggung jawab. Sekolah dasar berfungsi sebagai laboratorium
sosial pertama di mana anak belajar menghargai perbedaan dan membangun budaya
gotong royong. Dengan menghadirkan lingkungan belajar yang berorientasi pada
nilai-nilai luhur, sasaran pendidikan berkualitas yang humanis dan berkeadilan
dapat diwujudkan secara optimal.
Sejumlah pakar pendidikan dasar menilai bahwa keberhasilan penanaman
nilai karakter membutuhkan sinergi yang utuh antara tri pusat pendidikan:
sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru di sekolah dasar berperan sebagai role
model yang membentuk iklim kelas kondusif, sementara orang tua memperkuat
habituasi positif tersebut di rumah. Sinergi ini memastikan bahwa pembentukan
moral anak berjalan secara konsisten, melatih mereka untuk bernalar kritis
sekaligus memiliki benteng etika yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Menanamkan nilai karakter sejak jenjang sekolah dasar adalah investasi
jangka panjang yang menentukan arah peradaban bangsa. Langkah nyata ini menjadi
kunci utama dalam mencetak generasi emas Indonesia yang tidak hanya cerdas
secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial yang
tinggi. Dengan berkomitmen mengawal target SDGs 2030, kita bersama-sama
memastikan bahwa setiap anak tumbuh di lingkungan pendidikan yang membentuk
jiwa, akal, dan nurani mereka secara seimbang.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah