Suara Kesetaraan: Menggali Kisah Tokoh Perempuan Dunia dengan Google Translate
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 5 (SDG 5) memiliki fokus utama untuk mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan serta anak perempuan. Di lingkungan sekolah dasar, semangat kesetaraan ini dapat ditularkan dengan cara mengajak siswa meneliti biografi tokoh-tokoh perempuan inspiratif dari berbagai negara yang kisahnya mungkin belum banyak diterjemahkan atau tersedia dalam Bahasa Indonesia. Dengan menggunakan teknologi Google Translate, siswa dapat mengakses arsip digital, biografi, atau artikel berita berbahasa asing tentang ilmuwan perempuan dari Prancis, aktivis lingkungan muda dari Swedia, atau seniman kontemporer dari Jepang. Kegiatan ini membuka cakrawala pemikiran siswa bahwa perempuan yang berdaya, cerdas, dan berpengaruh ada di setiap penjuru dunia dan di segala bidang kehidupan.
Siswa diberikan tugas proyek untuk mencari artikel asli atau sumber primer tentang tokoh perempuan pilihan mereka, lalu menggunakan fitur translate untuk memahami perjalanan hidup, perjuangan, dan prestasi yang telah diraih tokoh tersebut. Tantangan utama dalam kegiatan ini bukan hanya sekadar menerjemahkan kata, tetapi menyusun kembali hasil terjemahan mesin yang terkadang kaku menjadi sebuah narasi cerita ulang (retelling) yang mengalir, emosional, dan inspiratif dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Proses penyuntingan (editing) dan penulisan ulang ini membuat siswa benar-benar meresapi makna perjuangan sang tokoh, bukan sekadar melakukan aktivitas copy-paste tanpa pemahaman.
Kegiatan penelitian tokoh ini secara efektif mematahkan stereotip gender sejak usia dini. Baik siswa laki-laki maupun perempuan sama-sama belajar dan menyadari bahwa kontribusi besar terhadap kemajuan sains, politik, sastra, dan seni tidak memandang gender. Akses bahasa yang dibuka lebar oleh Google Translate memungkinkan siswa menemukan role model atau teladan yang jauh lebih beragam, melampaui tokoh-tokoh yang itu-itu saja yang biasanya tercantum di buku teks pelajaran standar. Hal ini memperkaya referensi mereka tentang apa yang bisa dicapai oleh seorang manusia.
Hasil penelitian mendalam siswa ini kemudian dapat dipresentasikan dalam sesi kelas bertajuk "Pahlawan Tanpa Batas". Di sini, siswa menceritakan kembali kisah tokoh pilihan mereka dengan penuh semangat dan penghayatan di depan teman-temannya. Guru memfasilitasi sesi refleksi tentang berbagai hambatan sosial atau budaya yang dihadapi tokoh tersebut di negaranya dan relevansinya dengan kondisi saat ini, sehingga membangun empati mendalam dan kesadaran sosial pada diri siswa.
Melalui perantara teknologi Google Translate, kendala bahasa asing tidak lagi menjadi tembok penghalang bagi siswa untuk menyerap semangat kesetaraan global. Alat penerjemah ini berfungsi sebagai jembatan kokoh yang menghubungkan siswa SD di Indonesia dengan narasi-narasi hebat perempuan dunia, menanamkan keyakinan kuat bahwa setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi tak terbatas untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia