Tim PKM UNESA Berkolaborasi dengan UNTAN Mengenalkan Etno-VR kepada Guru Sanggar Belajar Meru di Selangor untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas Berbasis Budaya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di
tengah pesatnya perkembangan teknologi, menjaga nilai budaya dalam pembelajaran
menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Menjawab tantangan
tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya
(UNESA) berkolaborasi dengan Universitas Tanjungpura (UNTAN) memperkenalkan Etno-VR,
sebuah inovasi pembelajaran yang memadukan teknologi Virtual Reality (VR) dengan
pendekatan etnopedagogi kepada para guru di Sanggar Belajar Meru, Selangor,
Malaysia, pada Kamis (16/7/2026).
Kegiatan
diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dipimpin oleh Ketua Tim PKM, Neni
Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D., bersama tim dosen UNESA dan UNTAN. Dalam sesi
ini, para guru diajak memahami bagaimana teknologi tidak hanya menjadi media
pembelajaran, tetapi juga sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal
melalui pembelajaran berbasis proyek yang lebih kontekstual dan bermakna.
Suasana
semakin semarak ketika para guru mengikuti diskusi, sementara peserta didik
diajak mengikuti berbagai kegiatan ice breaking yang dipandu tim PKM. Aktivitas
tersebut tidak sekadar mencairkan suasana, tetapi juga menjadi media penguatan
karakter sekaligus mempererat pertukaran budaya antara Indonesia dan Malaysia
dalam suasana belajar yang menyenangkan.
Puncak
kegiatan berlangsung saat siswa jenjang SD mencoba langsung platform Etno-VR dengan
menjelajahi Masjid Al-Akbar Surabaya secara virtual. Sementara itu, peserta
didik jenjang PAUD mengikuti pembelajaran interaktif yang dirancang sesuai
tahap perkembangannya. Pengalaman belajar yang imersif ini membuktikan bahwa
teknologi mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif,
sekaligus memperkuat pemahaman peserta didik terhadap warisan budaya.
Setelah
sesi praktik, para guru kembali berdiskusi dalam FGD kedua untuk merefleksikan
pengalaman pembelajaran serta memberikan masukan terhadap implementasi Etno-VR
di kelas. Pada waktu yang sama, seluruh peserta didik mengikuti pengenalan
dasar bahasa Mandarin sebagai bentuk penguatan wawasan multikultural dan
penghargaan terhadap keberagaman budaya yang tumbuh di Malaysia.
Melalui
kolaborasi ini, UNESA dan UNTAN menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak
hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada pelestarian
identitas budaya. Program Etno-VR menjadi salah satu wujud nyata dukungan
terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran yang inovatif dan SDG
17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi internasional yang
mendorong lahirnya praktik pendidikan yang berdampak dan berkelanjutan.
###
Penulis
: Indriani Dwi Febrianti