Tutor Bayangan untuk Anak SD: Manfaat Nyata atau Kebiasaan Buruk yang Membuat Terlalu Bergantung?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di berbagai wilayah Surabaya, banyak keluarga yang mengizinkan bahkan mencari bantuan dari orang seperti Al untuk membantu anak-anak mereka dalam belajar. Alasan utama adalah mereka ingin anak mendapatkan prestasi akademik yang baik agar bisa masuk sekolah menengah yang berkualitas. Banyak yang merasa bahwa dengan adanya tutor bayangan, anak dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dan memiliki waktu luang untuk kegiatan lain seperti olahraga atau musik. Beberapa orang tua juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing pelajaran sekolah dasar saat ini yang dianggap lebih kompleks dari sebelumnya.
Namun, kebiasaan mengandalkan tutor bayangan mulai menunjukkan efek negatif pada banyak siswa SD. Anak-anak cenderung tidak lagi mencoba membaca buku pelajaran atau mendengarkan penjelasan guru di kelas dengan seksama, karena mereka tahu nantinya akan dibantu oleh Al. Mereka tidak merasa perlu mengingat konsep atau rumus pelajaran, karena segala sesuatu akan disiapkan dengan mudah. Kebiasaan ini perlahan-lahan membuat siswa menjadi malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar secara mandiri.
Sebuah observasi yang dilakukan di beberapa sekolah dasar di Surabaya menunjukkan bahwa siswa yang memiliki tutor bayangan cenderung lebih pasif saat kegiatan belajar mengajar di kelas. Mereka jarang mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Ketika diminta untuk menyelesaikan tugas secara individu tanpa bantuan, mereka seringkali menunjukkan ekspresi kesusahan dan bahkan menyerah sebelum mencoba. Hal ini berbeda dengan siswa yang belajar mandiri yang lebih aktif dan berani mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan masalah.
Para ahli pendidikan menyatakan bahwa usia dasar sekolah adalah masa yang sangat penting untuk membangun dasar kemandirian dan rasa tanggung jawab dalam belajar. Jika pada tahap ini siswa sudah terbiasa bergantung pada tutor bayangan, maka akan sulit bagi mereka untuk beradaptasi saat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka akan kesulitan mengelola waktu belajar sendiri, memahami materi yang lebih kompleks, dan menghadapi tantangan akademik yang semakin besar. Oleh karena itu, kebiasaan yang dianggap membantu justru bisa menjadi beban di masa depan.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan yang tepat dari semua pihak terkait. Orang tua dapat mulai menemani anak belajar secara bertahap, bahkan jika hanya dalam waktu singkat setiap hari, untuk mengajarkan cara berpikir dan menyelesaikan masalah. Guru dapat memberikan tugas yang mendorong kreativitas dan pemikiran kritis, serta memberikan bimbingan tambahan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Figur seperti Al juga dapat diarahkan untuk menjadi teman belajar yang benar, bukan sebagai penyedia jawaban siap pakai. Dengan demikian, bantuan yang diberikan akan memberikan manfaat nyata tanpa membuat siswa terlalu bergantung.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah