AI dan Kebiasaan Bertanya yang Perlahan Berubah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bertanya adalah jantung dari proses belajar, namun kebiasaan ini kini mengalami pergeseran yang halus. AI hadir sebagai pihak yang selalu siap menjawab, kapan pun dan apa pun pertanyaannya. Anak tidak perlu menunggu atau merasa ragu untuk mengajukan kebingungan. Semua terasa aman dan cepat. Dari luar, ini tampak seperti kemajuan besar. Namun perubahan ini membawa implikasi yang lebih dalam. Cara anak bertanya ikut berubah.
Dalam keseharian, pertanyaan yang diajukan kepada AI cenderung langsung mengarah pada jawaban. Anak jarang memulai dengan penelusuran panjang. Ia ingin kepastian, bukan kemungkinan. Pola ini membentuk kebiasaan berpikir yang linier. Bertanya tidak lagi menjadi proses eksplorasi, melainkan langkah menuju hasil akhir. Padahal eksplorasi adalah inti dari belajar.
Media sosial memperkuat kebiasaan ini melalui konten yang serba ringkas. Pertanyaan ditampilkan singkat, jawabannya lebih singkat lagi. AI menjadi simbol efisiensi dalam budaya tersebut. Anak terbiasa melihat bertanya sebagai jalan pintas. Ketika dihadapkan pada masalah kompleks, rasa sabar bisa terkikis. Proses berpikir yang berlapis terasa melelahkan.
Meski demikian, AI juga dapat memperkaya kualitas pertanyaan. Dengan bimbingan, anak dapat belajar menyusun pertanyaan yang lebih dalam. Ia bisa melihat bahwa satu pertanyaan memunculkan pertanyaan lain. AI dapat memfasilitasi dialog ini tanpa tekanan. Namun hal ini tidak terjadi secara otomatis. Kesadaran perlu ditumbuhkan.
Perubahan kebiasaan bertanya juga berdampak pada interaksi sosial. Anak lebih sering bertanya pada layar daripada pada orang di sekitarnya. Diskusi langsung berkurang, begitu pula pertukaran sudut pandang. Padahal dari perbedaan pendapat, pemahaman sering kali tumbuh. Tanpa interaksi, belajar menjadi lebih sempit.
Membangun kembali kebiasaan bertanya yang sehat memerlukan peran pendamping. Anak perlu diajak bertanya tidak hanya tentang apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana. AI dapat digunakan sebagai alat bantu, bukan tujuan akhir. Dengan pendekatan ini, kebiasaan bertanya tetap hidup. Bahkan bisa menjadi lebih tajam.
Kebiasaan bertanya yang baik melatih rasa ingin tahu dan keberanian berpikir. Anak belajar bahwa tidak semua jawaban bersifat tunggal. Proses inilah yang menumbuhkan nalar kritis. AI bisa mendukung proses ini jika digunakan secara sadar. Tanpa kesadaran, ia justru mereduksi makna bertanya.
Pada akhirnya, bertanya adalah pintu menuju pembelajaran yang bermakna. AI tidak seharusnya menutup pintu itu dengan jawaban instan. Ia seharusnya menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan baru. Dengan begitu, belajar tetap menjadi perjalanan, bukan sekadar tujuan. Perjalanan itu layak dijaga.
Penulis: Resinta Aini Z.