Batasan Usia dan Privasi: Menjaga Keamanan Data Siswa SD Saat Berinteraksi dengan Platform AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penggunaan platform Kecerdasan Buatan (AI) generatif seperti ChatGPT di Sekolah Dasar (SD) memunculkan isu kritis mengenai kepatuhan batasan usia dan perlindungan privasi data siswa. Mayoritas model AI dirancang untuk pengguna dewasa, dan interaksi anak-anak dapat melanggar regulasi privasi data yang ketat. Oleh karena itu, sekolah harus menerapkan protokol ketat untuk memastikan bahwa interaksi siswa dengan AI berlangsung di lingkungan yang aman dan legal.
Isu batasan usia adalah yang paling mendasar. Kebanyakan layanan AI, termasuk ChatGPT, memiliki persyaratan usia minimum (biasanya 13 tahun ke atas) untuk penggunaan tanpa pengawasan orang tua atau wali. Karena siswa SD berada di bawah usia tersebut, sekolah harus memastikan bahwa penggunaan AI dilakukan hanya di bawah pengawasan langsung guru dan melalui akun institusi yang dikelola oleh pendidik. Tujuannya adalah untuk mencegah pengumpulan data pribadi siswa secara langsung oleh penyedia layanan AI.
Aspek privasi data menjadi perhatian serius. Ketika siswa berinteraksi dengan chatbot, data percakapan mereka dapat digunakan untuk melatih model AI di masa depan. Sekolah harus memilih untuk menggunakan versi AI yang disensor atau dikelola secara lokal (jika tersedia), atau menggunakan sandbox digital yang dirancang untuk pendidikan, yang menjamin bahwa input siswa (termasuk nama, lokasi, atau informasi sensitif lainnya) tidak disimpan atau disebarluaskan.
Selain itu, guru SD harus secara aktif mengajarkan siswa tentang 'jejak digital' dan bahaya berbagi informasi pribadi. Pelajaran ini harus ditekankan bahwa meskipun berbicara dengan chatbot terasa seperti berbicara dengan teman, AI adalah mesin yang mencatat informasi. Siswa didorong untuk tidak pernah memasukkan nama lengkap, alamat rumah, atau informasi identitas diri lainnya saat menggunakan alat bantu AI.
Secara keseluruhan, tantangan batasan usia dan privasi menuntut SD untuk mengadopsi kerangka kerja etika AI yang kokoh. Sekolah harus memprioritaskan keamanan data siswa di atas kenyamanan teknologi, memastikan bahwa inovasi pembelajaran tidak dilakukan dengan mengorbankan hak-hak privasi dan perlindungan data pribadi anak.