Budaya Skrol dan Masa Depan Membaca PISA sebagai Cermin Generasi Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Budaya skrol telah menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari hari. Jari bergerak lebih cepat
daripada pikiran. Informasi datang bertubi tubi tanpa kesempatan merenung.
Dalam situasi ini, membaca menghadapi tantangan eksistensial. PISA mencerminkan
dampak dari kebiasaan tersebut. Skor literasi membaca menunjukkan lemahnya
pemahaman mendalam. Ini bukan soal kecerdasan generasi digital. Ini soal
lingkungan kognitif yang membentuk mereka. Literasi membaca berada di tengah
pusaran budaya instan.
Budaya skrol membiasakan otak untuk berpindah cepat.
Fokus menjadi komoditas langka. Membaca membutuhkan fokus yang bertahan. Ketika
fokus mudah terpecah, teks panjang terasa menekan. Akibatnya, pembaca
menghindar dari bacaan mendalam. Literasi pun terpinggirkan.
PISA mengukur kemampuan memahami konteks dan makna
implisit. Keterampilan ini tidak tumbuh dari potongan informasi. Ia tumbuh dari
interaksi intens dengan teks. Ketika interaksi tersebut jarang terjadi,
kemampuan berpikir kompleks menurun. Hasil asesmen menjadi cerminan dari
kebiasaan tersebut.
Namun generasi digital tidak anti membaca. Mereka
hanya membutuhkan pendekatan berbeda. Bacaan yang relevan dan kontekstual lebih
mudah diterima. Ketika membaca terasa dekat dengan realitas, minat dapat
tumbuh. Literasi tidak harus kaku untuk menjadi bermakna.
Lingkungan sekitar memegang peran penting. Ketika
membaca dihargai, ia menjadi kebiasaan. Ketika hanya kecepatan yang dihargai,
kedalaman terabaikan. PISA menunjukkan konsekuensi dari pilihan budaya
tersebut. Dari sini refleksi perlu dimulai.
Teknologi dapat diarahkan untuk mendukung literasi.
Algoritma dapat mendorong konten reflektif. Platform dapat memberi ruang bagi
bacaan panjang. Dengan desain yang sadar literasi, budaya skrol dapat
dilunakkan. Ini membutuhkan komitmen bersama.
Akhirnya, masa depan membaca ditentukan oleh pilihan
hari ini. PISA bukan vonis, melainkan peringatan. Ketika literasi membaca
diberi ruang, nalar dapat tumbuh kembali. Di tengah budaya skrol cepat, membaca
tetap relevan sebagai jangkar berpikir mendalam.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah