Etnopedagogi Berkelanjutan: Menjaga Kearifan Lokal Lewat Pendidikan Dasar
Di era digital yang serba cepat ini, pendidikan dasar memiliki tantangan besar: bagaimana tetap relevan dengan perkembangan zaman, namun tidak kehilangan akar budaya lokal. Sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Dasar yang mempelajari mata kuliah Etnopedagogi Berkelanjutan, saya mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran. Bukan sekadar pelengkap, kearifan lokal adalah fondasi karakter dan identitas anak bangsa.
Etnopedagogi berkelanjutan adalah pendekatan pendidikan yang menggabungkan nilai nilai budaya lokal ke dalam proses belajar mengajar secara konsisten dan kontekstual. Tujuannya bukan hanya mengenalkan budaya kepada siswa, tetapi juga melestarikannya melalui pendidikan yang relevan dan berkelanjutan. Dalam praktiknya, guru dituntut untuk memahami budaya lokal di lingkungan tempat tinggal siswa, lalu mengaitkannya dengan materi pelajaran.
Salah satu pengalaman berharga selama perkuliahan adalah ketika kami diminta melakukan observasi budaya di lingkungan sekitar. Saya tinggal di daerah Sidoarjo, Jawa Timur, yang kaya akan tradisi seperti larung sesaji, batik Jetis, dan cerita rakyat lokal. Dari hasil observasi, saya menyadari bahwa budaya bukan hanya milik masa lalu, tetapi masih hidup dan bisa menjadi sumber belajar yang luar biasa.
Sebagai contoh, dalam pelajaran IPS kelas IV tentang kegiatan ekonomi, guru bisa mengangkat tradisi pasar tradisional dan sistem barter yang masih terjadi di beberapa desa. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami praktik ekonomi lokal yang mereka lihat sehari-hari.
Berikut beberapa contoh integrasi kearifan lokal yang saya pelajari dan praktikkan: Bahasa Indonesia: Siswa diminta menulis ulang cerita rakyat daerah mereka, seperti “Timun Mas” atau “Jaka Tarub”, dengan gaya bahasa sendiri. Ini melatih kemampuan menulis sekaligus mengenalkan budaya. Matematika: Menggunakan contoh perhitungan hasil panen atau jual beli di pasar lokal untuk mengajarkan konsep operasi bilangan. IPA: Mengenalkan tanaman obat tradisional seperti daun sirih atau temulawak dalam pembelajaran tentang
tumbuhan dan manfaatnya. SBDP: Mengajarkan tarian tradisional atau membuat kerajinan tangan khas daerah sebagai bentuk ekspresi seni.
Dalam era digital, teknologi menjadi jembatan antara budaya dan generasi muda. Guru bisa memanfaatkan media digital untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kearifan lokal. Misalnya, membuat video pembelajaran tentang proses pembuatan batik, atau membuat podcast cerita rakyat yang bisa diakses siswa melalui gawai mereka.
Saya sendiri pernah membuat proyek video pendek tentang tradisi larung sesaji di desa saya, lalu menggunakannya sebagai bahan ajar dalam pelajaran PPKn tentang nilai gotong royong dan rasa syukur. Respons siswa sangat positif—mereka merasa bangga dan lebih memahami budaya sendiri.
Satu hal penting yang ditekankan dalam mata kuliah ini adalah bahwa kearifan lokal bersifat kontekstual. Guru tidak bisa memaksakan budaya dari daerah lain ke dalam pembelajaran jika tidak relevan dengan lingkungan siswa. Oleh karena itu, guru harus aktif melakukan observasi, berdialog dengan tokoh masyarakat, dan menggali potensi budaya lokal yang bisa diangkat ke dalam kelas.
Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga agen pelestarian budaya. Dengan pendekatan etnopedagogi berkelanjutan, guru bisa menjadi penghubung antara generasi muda dan warisan budaya. Ini bukan tugas yang mudah, tetapi sangat mulia. Pendidikan dasar adalah tahap awal pembentukan karakter, dan budaya lokal adalah sumber nilai yang kaya untuk membentuk anak-anak yang berakar kuat namun berpikiran terbuka.
Mata kuliah ini membuka mata saya bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum nasional, tetapi juga soal identitas lokal. Saya belajar bahwa menjadi guru berarti menjadi penjaga budaya, dan teknologi bisa menjadi alat bantu yang luar biasa jika digunakan dengan bijak. Saya berharap, semakin banyak guru yang sadar akan pentingnya etnopedagogi dan mulai mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran mereka.
Etnopedagogi berkelanjutan bukan sekadar metode, tetapi sebuah gerakan untuk menjaga warisan budaya melalui pendidikan. Dengan memahami lingkungan siswa, memanfaatkan teknologi, dan mengemas budaya secara kreatif, guru bisa menjadikan kelas sebagai ruang hidup budaya. Mari kita jadikan pendidikan dasar sebagai fondasi pelestarian budaya, demi masa depan yang berakar kuat dan tumbuh tinggi.
- Fira Zahrotul Ilma (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)