Filosofi Pendidikan Dasar dan Pembentukan Karakter: Menanamkan Nilai Luhur Sejak Dini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Secara ontologis, pendidikan dasar berperan sebagai fase pembentukan karakter dan kepribadian. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menyatakan bahwa karakter dibentuk melalui kebiasaan dan latihan. Oleh karena itu, pendidikan dasar merupakan tempat yang ideal untuk menumbuhkan kebiasaan baik sejak usia dini, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Epistemologinya menempatkan pengetahuan tentang karakter sebagai hasil pengalaman reflektif. John Dewey berpendapat bahwa nilai-nilai moral tidak dapat ditanamkan melalui hafalan, melainkan melalui pengalaman sosial yang bermakna. Anak perlu mengalami situasi yang menantang untuk belajar membuat keputusan moral.
Aksiologi pendidikan dasar bertujuan menciptakan masyarakat yang berkarakter kuat dan bermoral. Thomas Lickona menegaskan bahwa pendidikan karakter harus mengintegrasikan pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Dengan demikian, pembelajaran di SD perlu menggabungkan antara pengetahuan akademik dan penguatan nilai-nilai luhur.
Dalam praktiknya, pendidikan karakter dapat diimplementasikan melalui kegiatan proyek, refleksi nilai, dan kegiatan gotong royong di sekolah. Guru harus menjadi teladan moral yang menunjukkan integritas dan empati dalam interaksi sehari-hari.
Pendidikan dasar yang berlandaskan pada filosofi karakter akan menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan siap berkontribusi positif bagi bangsa.