Filter Gelembung: Bahaya Sempitnya Pandangan Digital bagi Nalar Kritis Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Algoritma internet saat ini dirancang untuk memberikan informasi yang sesuai dengan minat dan apa yang kita sukai, namun bagi siswa SD, hal ini bisa sangat berbahaya. Anak-anak yang terus-menerus terpapar pada satu jenis konten tanpa pembanding akan terjebak dalam "filter gelembung" (filter bubble) yang menyempitkan cakrawala berpikir mereka sejak usia dini. Ketidakmampuan siswa bersikap kritis terhadap algoritma membuat mereka rentan terhadap provokasi, hoaks, dan pandangan yang tidak toleran, hanya karena informasi tersebut terus-menerus muncul di beranda mereka.
Fenomena ini seringkali tidak disadari oleh orang tua dan guru, padahal dampaknya sangat besar bagi pembentukan pandangan dunia (worldview) anak. Jika seorang anak terus menonton video yang menyudutkan kelompok tertentu, maka algoritma akan terus menyuguhkan konten serupa hingga anak tersebut percaya bahwa itulah satu-satunya kebenaran. Tanpa kemampuan literasi digital yang mendalam, nalar kritis siswa akan tumpul karena mereka tidak lagi terbiasa menghadapi perbedaan pendapat atau fakta dari sudut pandang yang berbeda.
Para peneliti di UNESA menekankan pentingnya pengajaran "algoritma literasi" di sekolah dasar. Siswa harus diajak memahami bahwa apa yang terlihat di layar mereka adalah hasil pilihan mesin, bukan cerminan menyeluruh dari realitas dunia. Mengajarkan cara mencari informasi secara mandiri di luar rekomendasi algoritma adalah keterampilan hidup yang esensial di era ini. Kita harus mendorong siswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang luas dan tidak hanya terjebak pada apa yang disodorkan secara instan oleh perangkat mereka.
Kurikulum pendidikan dasar perlu memasukkan kegiatan "debat fakta", di mana siswa diminta mencari informasi yang berlawanan dari satu topik tertentu di internet. Hal ini bertujuan untuk melatih fleksibilitas berpikir dan kemampuan menganalisis bias informasi. Dengan membiasakan siswa menghadapi keberagaman data, kita sedang menyiapkan mereka menjadi warga negara yang demokratis dan menghargai perbedaan. Kemampuan berselancar tidak boleh hanya digunakan untuk mencari konfirmasi atas apa yang sudah kita percayai, tapi untuk mencari kebenaran yang lebih luas.
Selain aspek kognitif, filter gelembung juga berdampak pada sikap sosial anak. Anak-anak yang terjebak dalam komunitas digital yang eksklusif cenderung menjadi tertutup dan sulit bekerja sama dengan orang yang berbeda latar belakang. Literasi digital harus mencakup edukasi tentang inklusivitas dan keberagaman global. Kita ingin siswa SD kita menjadi "warga dunia" yang memiliki empati luas, bukan individu yang terkotak-kotak oleh algoritma yang bersifat memecah belah.
Peran guru sebagai kurator informasi menjadi sangat vital di kelas. Guru harus mampu menyediakan berbagai sumber belajar yang variatif dan tidak hanya mengandalkan satu platform digital saja. Memberikan tugas yang menuntut perbandingan antar sumber berita akan mengasah ketajaman analisis siswa. Di tengah kepungan teknologi, sentuhan manusia melalui bimbingan guru yang bijak adalah obat penawar bagi efek negatif gelembung informasi ini. Kita harus memastikan bahwa layar gawai membuka jendela dunia bagi anak-anak, bukan justru menjadi dinding yang mengurung mereka.
Sebagai penutup, kecerdasan digital adalah tentang kemampuan untuk keluar dari zona nyaman informasi. Siswa SD harus diajarkan untuk bersikap kritis terhadap apa yang mereka baca dan dengar di ruang siber. Mari kita bantu mereka memecahkan gelembung informasi yang sempit dengan menanamkan semangat literasi yang inklusif dan terbuka. Dengan cara itulah, kepintaran berselancar mereka akan membuahkan kearifan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah