Ilusi Kepintaran Digital: Bahaya Copy-Paste dan Hilangnya Nalar Kritis Siswa SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kemudahan akses informasi melalui mesin pencari dan kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan ilusi bahwa siswa SD saat ini jauh lebih pintar karena mampu mengerjakan tugas dengan kecepatan kilat. Namun, di balik tumpukan tugas yang terlihat sempurna, tersembunyi krisis nalar yang mengkhawatirkan: banyak siswa hanya melakukan proses "salin-tempel" tanpa benar-benar mencerna substansi materi. Kemahiran mereka menekan tombol perintah (prompt) justru seringkali mematikan proses sinapsis di otak yang seharusnya aktif dalam mengolah logika dan argumentasi mandiri.
Fenomena ini jika dibiarkan akan melahirkan generasi "penerima pasif" yang kehilangan kemampuan untuk bertanya "mengapa" dan "bagaimana". Siswa cenderung menerima hasil pencarian pertama di Google sebagai kebenaran mutlak tanpa melakukan verifikasi atau membandingkan dengan sumber lain. Nalar kritis yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan sedang terancam oleh kenyamanan yang ditawarkan algoritma. Kepintaran teknologi dalam hal ini bukan lagi menjadi alat bantu, melainkan menjadi penghambat bagi perkembangan intelektual yang autentik dan mendalam.
Para pendidik di jenjang pascasarjana menekankan bahwa tugas guru bukan lagi sekadar memberi pertanyaan yang jawabannya tersedia di internet, melainkan memprovokasi pemikiran siswa. Evaluasi hasil belajar harus bergeser dari sekadar mengumpulkan makalah menjadi presentasi lisan atau demonstrasi langsung di kelas. Dengan cara ini, guru dapat melacak sejauh mana siswa benar-benar memahami konsep yang mereka tuliskan. Inovasi pedagogi diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi tidak "mencuri" proses berpikir anak-anak kita.
Selain itu, ketergantungan pada hasil instan digital dapat menurunkan daya tahan mental siswa dalam menghadapi tantangan yang rumit. Belajar adalah sebuah proses yang terkadang membosankan dan membutuhkan ketekunan, namun dunia digital menawarkan kepuasan instan (instant gratification) yang merusak ritme belajar alami. Siswa yang terbiasa dengan jawaban cepat akan mudah frustrasi saat menghadapi soal matematika atau sains yang membutuhkan analisis panjang. Inilah tantangan besar dalam membangun karakter pembelajar yang tangguh di era serba cepat.
Kesadaran akan integritas akademik juga harus ditanamkan sejak dini melalui pemahaman tentang plagiarisme. Siswa SD perlu diajarkan bahwa mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri adalah tindakan tidak jujur yang mencederai etika keilmuan. Menanamkan rasa bangga pada hasil karya sendiri—sekalipun tidak sesempurna buatan mesin—adalah langkah awal membangun kepercayaan diri intelektual. Pendidikan bukan tentang skor akhir di atas kertas, melainkan tentang transformasi cara berpikir yang terjadi di dalam kepala siswa.
Pihak sekolah perlu merancang kurikulum yang menyeimbangkan antara penggunaan perangkat digital dan aktivitas fisik yang menuntut nalar manual. Misalnya, memadukan riset di internet dengan observasi lapangan secara langsung untuk mencocokkan fakta. Hal ini akan memaksa siswa untuk bersikap kritis terhadap apa yang mereka baca di layar. Literasi digital yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk tetap berkuasa atas teknologi, bukan justru dikendalikan oleh kemudahan yang ditawarkannya.
Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa kepintaran teknis tanpa nalar kritis adalah sebuah kerentanan. Siswa yang cerdas adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi sebagai batu loncatan untuk berpikir lebih dalam, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses berpikir. Mari kita kembalikan marwah sekolah sebagai tempat untuk mengasah logika dan kejujuran intelektual. Hanya dengan cara itulah, generasi masa depan kita akan mampu berdiri tegak di tengah derasnya arus otomatisasi global.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah