Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —
Kurikulum Merdeka adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menjawab tantangan
pendidikan modern, yang menuntut kreativitas, pemikiran kritis, dan
kemampuan untuk belajar sepanjang hayat. Salah satu tujuan utama kurikulum ini
adalah menumbuhkan kemandirian belajar peserta didik sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima informasi tetapi juga pencari dan
pengelola informasi secara aktif.
Dalam Kurikulum Merdeka, guru tidak hanya memberikan informasi, tetapi
juga membantu siswa dan membantu mereka belajar. Metode ini memungkinkan siswa
untuk mengeksplorasi bakat mereka melalui proyek, pembelajaran berbasis
masalah, dan kegiatan kolaboratif. Pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas semua aspek proses belajar
mereka, termasuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar
mereka.
Kegiatan seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah
contoh dari implementasi kemandirian belajar.
Misalnya, dalam proyek bertema lingkungan, siswa diajarkan untuk menentukan
masalah, mencari informasi, dan menemukan solusi secara
mandiri. Proses ini tidak
hanya menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan
kemampuan untuk membuat keputusan.
Dalam kurikulum merdeka, pendekatan pembelajaran yang berbeda juga sangat penting. Siswa memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatan masing-masing, seperti yang diberikan oleh guru. Tugas pengayaan dapat diberikan kepada siswa yang cepat memahami materi, dan bimbingan tambahan dapat diberikan kepada siswa yang masih menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, setiap siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk memaksimalkan potensinya.
Dukungan teknologi sangat penting untuk meningkatkan kemandirian belajar. Siswa memiliki akses lebih mudah ke sumber pendidikan digital, seperti platform interaktif, dan video pembelajaran.
Namun, keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak hanya bergantung pada guru dan siswa; peran orang tua dan sekolah juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Orang tua dapat bertindak sebagai pendamping di rumah, sementara sekolah harus membangun lingkungan belajar yang terbuka, inklusif, dan menghargai keberagaman. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka dapat menjadi pondasi kuat untuk membangun generasi yang kritis, mandiri, dan berdaya saing tinggi yang siap menghadapi perubahan zaman dan memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat jika semua komponen bekerja sama.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest