Kesenjangan Digital dan Ilusi Kesempatan Belajar yang Sama
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kemajuan teknologi sering dipersepsikan sebagai
pembuka kesempatan belajar yang merata. Informasi dapat diakses dari mana saja
dan kapan saja. Namun persepsi ini tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Kesenjangan digital menciptakan ilusi kesetaraan yang menyesatkan. Di
permukaan, semua tampak memiliki peluang yang sama. Pada kenyataannya, akses
menentukan seberapa jauh peluang itu dapat dimanfaatkan. Mutu belajar akhirnya
dipengaruhi oleh faktor yang tidak selalu terlihat. Ilusi ini membuat ketimpangan
semakin sulit dikenali.
Akses digital
menentukan intensitas interaksi dengan pengetahuan. Individu dengan akses luas
dapat belajar secara berulang dan mendalam. Sementara itu, keterbatasan akses
membatasi frekuensi belajar. Perbedaan intensitas ini berdampak langsung pada
pemahaman. Mutu belajar terbentuk dari seberapa sering dan seberapa dalam
interaksi terjadi.
Ilusi kesetaraan juga
muncul dari ketersediaan platform digital. Platform yang sama tidak menjamin
pengalaman yang sama. Kualitas akses memengaruhi bagaimana platform digunakan.
Bagi sebagian orang, platform menjadi ruang eksplorasi. Bagi yang lain, ia hanya
menjadi etalase yang sulit dijangkau. Perbedaan ini jarang disadari dalam
penilaian umum.
Kesenjangan digital
juga memengaruhi kecepatan belajar. Akses yang stabil memungkinkan pembaruan
pengetahuan secara cepat. Keterbatasan akses menyebabkan keterlambatan
mengikuti perkembangan. Ketertinggalan ini bersifat kumulatif. Seiring waktu,
jarak mutu belajar semakin melebar.
Aspek kepercayaan
diri turut dipengaruhi oleh kesenjangan digital. Individu dengan akses terbatas
sering merasa kurang kompeten. Perasaan ini muncul bukan karena kurangnya
kemampuan, tetapi keterbatasan fasilitas. Dampaknya adalah penurunan keberanian
untuk bereksplorasi. Mutu belajar terhambat oleh faktor psikologis.
Mengakui ilusi
kesetaraan menjadi langkah awal perbaikan. Selama ilusi ini dipertahankan,
ketimpangan akan terus tersembunyi. Pengakuan membuka ruang diskusi yang lebih
jujur. Dari diskusi inilah solusi dapat dirumuskan secara lebih adil.
Pada akhirnya,
kesenjangan digital membongkar ilusi kesempatan belajar yang sama. Akses masih
menjadi penentu utama mutu belajar. Tanpa pemerataan akses yang nyata,
kesetaraan akan tetap menjadi slogan tanpa substansi.
###
Penulis: Resinta Aini
Zakiyah