Kesenjangan Digital dan Wajah Ketimpangan Belajar di Era Informasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Kesenjangan digital menjadi isu yang semakin terasa di
tengah derasnya arus informasi. Di satu sisi, teknologi menjanjikan kemudahan
akses pengetahuan tanpa batas. Di sisi lain, tidak semua individu memiliki
peluang yang sama untuk memanfaatkan kemajuan tersebut. Akses terhadap
perangkat dan jaringan masih menjadi faktor penentu utama. Ketimpangan ini
menciptakan jurang yang tidak kasat mata namun berdampak nyata. Mutu belajar
akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh
ketersediaan sarana digital. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar
tentang keadilan dalam belajar. Ketika teknologi menjadi medium utama,
keterbatasan akses berubah menjadi hambatan struktural.
Akses digital bukan sekadar soal tersedianya
perangkat. Ia juga mencakup kualitas jaringan dan keberlanjutan penggunaannya.
Banyak individu yang harus beradaptasi dengan koneksi yang tidak stabil.
Situasi ini menghambat proses memahami informasi secara utuh. Ketika akses
terputus, proses berpikir pun ikut terfragmentasi. Akibatnya, pengalaman
belajar menjadi tidak optimal.
Kesenjangan digital juga memengaruhi cara individu
berinteraksi dengan informasi. Mereka yang memiliki akses memadai dapat
mengeksplorasi berbagai sumber. Sementara itu, kelompok dengan akses terbatas
cenderung bergantung pada informasi yang sempit. Ketimpangan ini melahirkan
perbedaan perspektif dan kedalaman pemahaman. Dalam jangka panjang, perbedaan
ini memperlebar jurang mutu belajar.
Selain akses fisik, literasi digital turut memainkan
peran penting. Akses tanpa kemampuan mengolah informasi tidak serta merta
meningkatkan mutu belajar. Namun tanpa akses, literasi pun sulit berkembang.
Hubungan antara akses dan literasi bersifat saling menguatkan. Ketika salah
satunya timpang, proses belajar ikut terganggu. Kesenjangan digital menjadi
masalah multidimensi.
Aspek ekonomi sering kali menjadi akar persoalan.
Keterbatasan daya beli memengaruhi kemampuan mengakses teknologi. Kondisi ini
menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Keterbatasan akses menurunkan mutu
belajar, lalu berimplikasi pada peluang ekonomi di masa depan. Siklus ini terus
berulang tanpa intervensi yang memadai.
Dampak kesenjangan digital tidak selalu langsung
terlihat. Ia bekerja secara perlahan melalui akumulasi ketertinggalan. Individu
yang tertinggal akses membutuhkan usaha lebih besar untuk mengejar
ketertinggalan. Upaya ini sering kali tidak sebanding dengan hasil yang
diperoleh. Ketimpangan pun semakin mengeras.
Pada akhirnya, kesenjangan digital menunjukkan bahwa
akses masih menentukan mutu belajar. Teknologi yang seharusnya menjadi alat
pemerataan justru berpotensi memperdalam ketimpangan. Tanpa perhatian serius
pada akses yang adil, mutu belajar akan terus dipengaruhi oleh faktor di luar
kemampuan individu.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah