Ketimpangan Akses Digital dan Hilangnya Kesempatan Belajar Mendalam
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Belajar yang bermutu menuntut kedalaman, bukan
sekadar paparan informasi. Kedalaman ini hanya dapat dicapai melalui interaksi
berkelanjutan dengan pengetahuan. Kesenjangan digital menghambat proses
tersebut secara signifikan. Akses yang timpang membuat sebagian individu sulit
mencapai pembelajaran mendalam. Proses belajar menjadi terburu-buru dan
terputus. Mutu belajar akhirnya tereduksi menjadi pemahaman permukaan.
Ketimpangan ini sering luput dari perhatian karena hasil belajar dinilai secara
seragam. Padahal proses yang dilalui sangat berbeda.
Akses digital yang
stabil memungkinkan pengulangan dan pendalaman materi. Individu dapat kembali
pada sumber yang sama untuk memperdalam pemahaman. Sebaliknya, keterbatasan
akses memaksa individu memanfaatkan kesempatan sesaat. Kesempatan ini sering
tidak cukup untuk membangun pemahaman utuh. Proses belajar pun menjadi dangkal.
Pembelajaran mendalam
juga membutuhkan waktu refleksi. Refleksi muncul ketika individu memiliki ruang
untuk merenung dan mengaitkan informasi. Akses yang terbatas mengurangi ruang
ini. Waktu belajar lebih banyak dihabiskan untuk mengejar ketertinggalan teknis.
Akibatnya, refleksi menjadi terabaikan. Mutu belajar kehilangan dimensi
kedalamannya.
Ketimpangan akses
turut memengaruhi kemampuan mengintegrasikan pengetahuan. Akses luas
memungkinkan penghubungan berbagai konsep lintas sumber. Tanpa akses,
pengetahuan dipahami secara terpisah-pisah. Fragmentasi ini menghambat
pemahaman holistik. Mutu belajar pun tidak berkembang secara utuh.
Dampak psikologis
juga muncul dari keterbatasan akses. Individu merasa tertekan oleh waktu dan
keterbatasan kesempatan. Tekanan ini mengurangi kenikmatan belajar. Ketika
belajar menjadi beban, kedalaman pemahaman sulit tercapai. Proses belajar
berubah menjadi sekadar penyelesaian tugas.
Upaya menciptakan
pembelajaran mendalam harus mempertimbangkan akses sebagai prasyarat. Tanpa
akses yang memadai, strategi pendalaman tidak akan efektif. Ketimpangan akses
perlu diatasi agar setiap individu memiliki peluang yang sama untuk belajar
secara mendalam.
Pada akhirnya,
kesenjangan digital menghilangkan kesempatan belajar mendalam bagi sebagian
kelompok. Mutu belajar tidak dapat dilepaskan dari kualitas akses. Selama akses
masih timpang, kedalaman belajar akan tetap menjadi privilese, bukan hak
bersama.
###
Penulis: Resinta Aini
Zakiyah