Kurikulum Bilingual: Antara Obsesi Prestasi dan Kesiapan Psikis Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dorongan
mewajibkan Bahasa Inggris di SD seringkali berangkat dari obsesi pencapaian
prestasi akademik standar internasional yang kian membebani psikis anak. Model
kurikulum bilingual yang kini mulai diadopsi menuntut siswa memahami sains dan
matematika dalam bahasa asing sejak dini. Padahal, pemahaman konsep dasar yang
rumit seringkali jauh lebih efektif jika disampaikan menggunakan bahasa yang
paling dikuasai anak secara emosional dan intuitif.
Studi psikologi
pendidikan menunjukkan bahwa pemaksaan bahasa asing dalam subjek non-bahasa
pada anak usia dini dapat menghambat logika berpikir kritis. Siswa seringkali
lebih sibuk mencari terjemahan kata daripada memahami esensi dari materi
pelajaran yang disampaikan guru. Hal ini berisiko menciptakan fenomena
"pembelajaran permukaan," di mana siswa tampak mahir berbahasa namun
sebenarnya dangkal dalam pemahaman sains dan logika numerasi dasar.
Selain itu, tekanan dari
orang tua yang menginginkan anaknya cepat fasih sering kali berujung pada
jadwal les tambahan yang menguras waktu istirahat anak. Sekolah dasar yang
seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersosialisasi, kini berisiko
berubah menjadi arena kompetisi linguistik yang sangat ketat. Perlu adanya
batasan agar Bahasa Inggris tetap bersifat fungsional dan komunikatif, bukan
sebagai alat penilaian kognitif yang menghakimi perkembangan anak.
Pemerintah harus
memberikan panduan kurikulum yang moderat, yang tetap mengutamakan kedalaman
pemahaman materi di atas kefasihan bahasa instruksional. Penggunaan bahasa
asing di kelas seharusnya bersifat suplementer untuk memperkaya kosakata, bukan
sebagai bahasa pengantar utama yang bersifat wajib di semua sesi. Keseimbangan
ini sangat penting untuk menjamin agar perkembangan intelektual anak tidak
terhambat oleh hambatan bahasa.
Pada akhirnya,
keberhasilan kurikulum baru ini akan diukur dari tingkat kebahagiaan dan
kemandirian siswa dalam belajar di sekolah. Pendidikan bukan tentang seberapa
cepat anak menguasai bahasa asing, melainkan seberapa kokoh fondasi pemahaman
mereka terhadap ilmu pengetahuan. Bahasa Inggris harus menjadi sayap bagi
mereka untuk terbang lebih jauh, bukan beban di pundak yang justru membuat
mereka sulit melangkah maju.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah