Lepas dari Belenggu Hafalan: Langkah Menuju Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hafalan telah menjadi ikatan yang membatasi perkembangan potensi siswa di banyak sistem pendidikan. Banyak siswa yang merasa terjebak dalam siklus belajar yang hanya fokus pada mengingat informasi untuk ujian, tanpa benar-benar memahami atau mampu menerapkannya. Hal ini menyebabkan kurangnya minat dalam belajar, rendahnya motivasi, dan terbatasnya kemampuan berpikir secara mandiri. Untuk melepaskan siswa dari belenggu ini, kita perlu mengambil langkah-langkah tegas menuju pembelajaran berbasis pemecahan masalah yang lebih mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Langkah pertama dalam melepaskan belenggu hafalan adalah mengubah pandangan kita tentang evaluasi. Banyak sistem pendidikan saat ini masih menggunakan ujian yang menuntut siswa untuk mengeluarkan informasi yang telah dihafalkan sebagai satu-satunya cara untuk mengukur keberhasilan akademik. Kita perlu bentuk evaluasi yang lebih beragam dan komprehensif, seperti portofolio siswa yang menunjukkan perkembangan kemampuan pemecahan masalah mereka dari waktu ke waktu, presentasi proyek yang menuntut mereka untuk menyampaikan solusi yang telah mereka kembangkan, atau penilaian berbasis kinerja yang melihat bagaimana siswa mengatasi tantangan nyata. Dengan mengubah cara kita memecahkan siswa, kita juga mengubah cara mereka belajar.
Langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan dan dukungan yang memadai bagi guru. Banyak guru yang telah terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis hafalan dan mungkin merasa tidak nyaman atau tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menerapkan pembelajaran berbasis pemecahan masalah. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan pelatihan berkelanjutan yang membantu guru memahami prinsip-prinsip dasar pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah dan mengembangkan keterampilan untuk menerapkannya di kelas. Dukungan juga dapat berupa penyediaan sumber daya pendidikan seperti buku panduan, contoh aktivitas, dan akses ke teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran. Selain itu, membentuk komunitas belajar antar guru dapat membantu mereka berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam mengimplementasikan perubahan.
Langkah ketiga adalah menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah. Sekolah perlu menyediakan ruang dan fasilitas yang memungkinkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif, melakukan eksperimen, dan mengembangkan proyek. Lingkungan belajar juga harus menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk membuat kesalahan, karena kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar dan pemecahan masalah. Guru perlu menciptakan suasana kelas yang mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan rasa percaya diri pada siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pujian yang tepat pada usaha dan proses yang dilakukan siswa, bukan hanya pada hasil akhir yang dicapai.
Langkah terakhir adalah melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses perubahan. Orang tua perlu memahami tentang pentingnya melepaskan belenggu hafalan dan bagaimana pembelajaran berbasis pemecahan masalah dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak mereka. Masyarakat dapat berkontribusi dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam aktivitas nyata yang melibatkan pemecahan masalah, seperti proyek atau masyarakat magang. Dengan kerja sama yang erat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, kita dapat memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk melepaskan ikatan hafalan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan hasil yang maksimal bagi perkembangan siswa.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah