Literasi sebagai Isu Kontemporer dalam Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Literasi tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pendidikan dasar, literasi berkembang menjadi literasi informasi, literasi digital, dan literasi kritis. Perkembangan ini dipengaruhi oleh perubahan sosial dan teknologi. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam menanamkan fondasi literasi sejak dini. Literasi menjadi kunci keberhasilan belajar siswa.
Secara teoretis, literasi kritis memandang teks sebagai produk sosial dan budaya. Siswa diajak untuk tidak hanya memahami teks, tetapi juga mempertanyakan maknanya. Pendekatan ini relevan untuk membangun kesadaran kritis anak. Guru perlu membimbing siswa dalam membaca informasi secara reflektif. Hal ini penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Dalam pembelajaran SD, literasi dapat diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Pembelajaran IPA dan IPS dapat melibatkan aktivitas membaca sumber informasi sederhana. Siswa diajak mengidentifikasi informasi penting dan menyimpulkannya dengan bahasa sendiri. Praktik ini melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikatif. Literasi menjadi bagian dari proses belajar, bukan aktivitas terpisah.
Penguatan literasi juga membutuhkan pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak. Media visual, cerita, dan teknologi sederhana dapat dimanfaatkan. Guru perlu kreatif dalam merancang aktivitas literasi. Lingkungan sekolah yang kaya teks juga mendukung perkembangan literasi siswa. Literasi tumbuh melalui kebiasaan dan pengalaman yang konsisten.
Dengan demikian, literasi merupakan isu sentral dalam pendidikan dasar kontemporer. Sekolah dasar menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi literat. Pendekatan literasi yang holistik akan memperkuat kualitas pembelajaran. Pendidikan dasar yang berorientasi literasi berkontribusi pada pembentukan warga belajar sepanjang hayat.
Penulis: Aida Meilina