Masa Depan Nalar Kritis: Menuju Indonesia Emas 2045 melalui Kurikulum Merdeka
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perjalanan pembentukan nalar kritis melalui Kurikulum Merdeka di sekolah dasar bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan investasi strategis bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Di awal tahun 2026 ini, kita mulai melihat tunas-tunas pemikiran bebas dan kritis yang tumbuh dari ruang-ruang kelas yang merdeka, namun perjalanan masih panjang dan penuh dengan hambatan sistemik yang menantang. Artikel penutup ini merangkum harapan, tantangan, dan langkah konkret yang harus diambil oleh seluruh pemangku kepentingan untuk menjamin bahwa nalar kritis tetap menjadi mahkota dari sistem pendidikan dasar kita di masa depan.
Secara filosofis, nalar kritis adalah prasyarat bagi tegaknya kedaulatan bangsa di tengah percaturan global yang kian kompetitif dan tidak menentu. Bangsa yang besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar patuh dan menghafal, melainkan oleh mereka yang berani bertanya, berani berinovasi, dan berani mengoreksi diri demi kemajuan bersama. Kurikulum Merdeka telah meletakkan fondasi hukum dan metodologi yang tepat, namun keberhasilannya sangat bergantung pada seberapa jauh kita mampu menjaga integritas nalar kritis tersebut dari politisasi pendidikan dan pragmatisme hasil belajar yang dangkal.
Analisis akademik dari S2 Dikdas menekankan bahwa keberlanjutan nalar kritis menuntut adanya ekosistem pendidikan yang menghargai proses refleksi di semua tingkatan, mulai dari kementerian hingga ruang kelas. Guru harus diberikan perlindungan dan kemerdekaan profesional untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan nalar siswa. Tanpa adanya jaminan kebebasan berpendapat bagi pendidik, maka pengajaran nalar kritis di sekolah hanya akan menjadi indoktrinasi baru yang justru mematikan daya kritis siswa secara perlahan dan sistemik dari dalam.
Tantangan ke depan juga menyangkut bagaimana kita melakukan standardisasi nalar kritis tanpa membunuh keragaman konteks lokal yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang majemuk. Kita membutuhkan instrumen penilaian yang cerdas dan humanis, yang mampu menangkap kemajuan logika siswa di pelosok Papua dengan keadilan yang sama dengan siswa di ibu kota Jakarta. Penjagaan mutu nalar kritis harus dilakukan melalui kolaborasi riset yang intensif antara universitas dan sekolah lapangan, guna memastikan bahwa teori-teori pedagogi yang dikembangkan benar-benar relevan dengan tantangan zaman yang dinamis.
Peran orang tua dan masyarakat luas juga harus terus diperkuat agar atmosfer nalar kritis tidak berhenti di pintu gerbang sekolah, melainkan berlanjut hingga ke ruang makan keluarga. Kita perlu membangun budaya masyarakat yang merayakan perbedaan pendapat sebagai anugerah, bukan sebagai bibit perpecahan yang menakutkan. Hanya dengan dukungan lingkungan sosial yang sehat, nalar kritis siswa akan tumbuh menjadi karakter yang kuat, jujur, dan berintegritas, yang akan membimbing mereka menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang visioner dan rendah hati di masa depan nanti.
Integrasi nalar kritis juga harus dibarengi dengan penguatan nilai-nilai religiusitas dan moralitas agar nalar yang tajam tidak digunakan untuk tujuan yang merusak atau manipulatif. Nalar kritis yang beradab adalah nalar yang mencari kebenaran demi kemaslahatan manusia, bukan nalar yang mencari pembenaran atas ambisi pribadi yang egois. Dalam Kurikulum Merdeka, keseimbangan antara iman, takwa, dan nalar kritis adalah kunci untuk melahirkan manusia Indonesia yang utuh, yang mampu menjawab tantangan sains modern tanpa kehilangan akar spiritualitas dan kearifan luhur bangsanya.
Sebagai penutup, nalar kritis adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi mendatang agar mereka tetap merdeka di tengah dunia yang serba terkontrol dan terotomatisasi. Kurikulum Merdeka adalah sebuah langkah berani yang harus kita kawal bersama dengan penuh ketulusan, kejujuran, dan ketekunan intelektual yang tinggi. Mari kita jadikan nalar kritis sebagai napas pendidikan kita, agar Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal kemajuan fisik, tetapi soal kejayaan akal budi dan kemerdekaan berpikir manusia Indonesia. Hanya dengan nalar yang kritis dan merdeka, kita benar-benar akan menjadi bangsa yang besar dan terhormat di mata dunia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah