Membangun Green Mind: Mengubah Sekolah Dasar Menjadi Laboratorium Iklim
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sejak awal
semester tahun ajaran ini, ribuan sekolah dasar di seluruh Indonesia mulai
mentransformasi halaman sekolah mereka menjadi laboratorium hidup sebagai upaya
konkret membangun green mind pada generasi alpha dalam menghadapi krisis
iklim global. Langkah strategis ini diambil guna menjawab tantangan perubahan
iklim yang kian ekstrem, di mana pendidikan dasar dianggap sebagai titik awal
paling krusial untuk menanamkan nalar ekologis. Sekolah tidak lagi sekadar
tempat menghafal teori biologi, melainkan pusat inkubasi di mana siswa diajak
merancang solusi nyata atas masalah lingkungan di sekitar mereka.
Konsep laboratorium
solusi iklim ini mengintegrasikan kurikulum merdeka dengan praktik mitigasi
lingkungan yang terukur. Di sini, siswa belajar tentang siklus karbon melalui
pengelolaan kompos sekolah dan memahami konservasi air melalui sistem pemanenan
air hujan sederhana yang mereka kelola sendiri. Data menunjukkan bahwa
anak-anak yang terpapar pada pembelajaran berbasis proyek lingkungan memiliki
tingkat kepedulian dan kemampuan pemecahan masalah yang 40% lebih tinggi
dibandingkan mereka yang hanya belajar di dalam kelas konvensional.
Analisis dari para pakar
pendidikan lingkungan menekankan bahwa keterlibatan fisik siswa dalam mengelola
ekosistem sekolah mampu menghapus jarak antara teori akademik dan realitas
lingkungan. Ketika siswa SD mampu menghitung berapa liter air yang mereka hemat
melalui sistem daur ulang buatan sendiri, mereka sedang membangun fondasi
logika yang kuat tentang efisiensi energi. Ini bukan sekadar gerakan menanam
pohon, melainkan upaya sistemik menciptakan agen perubahan yang memahami bahwa
setiap data lingkungan memiliki konsekuensi terhadap masa depan mereka.
Melalui pendekatan ini,
sekolah dasar berperan sebagai garda depan dalam menciptakan masyarakat yang
adaptif terhadap krisis iklim. Kurikulum yang dulunya kaku kini menjadi lebih
cair, memberikan ruang bagi kreativitas siswa untuk menciptakan produk inovatif,
seperti bioplastik dari limbah pertanian sekolah. Transformasi ini menjadi
bukti bahwa sekolah dasar bukan lagi menara gading, melainkan tempat lahirnya
solusi-solusi kecil yang memiliki dampak besar bagi keberlangsungan bumi.
Upaya membangun green
mind di sekolah dasar adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa
ditunda lagi jika kita ingin mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan
lingkungan. Dengan menjadikan sekolah sebagai laboratorium solusi iklim, kita
tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan harapan dan alat
bagi siswa untuk memperbaiki bumi yang mereka warisi. Kesuksesan program ini
akan menjadi tolok ukur sejauh mana bangsa ini serius dalam menghadapi
tantangan iklim di masa depan
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah