MENANAMKAN TOLERANSI SOSIAL DI KELAS RENDAH
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Toleransi bukan sekadar nilai moral, melainkan keterampilan sosial
yang penting untuk kehidupan bersama di masyarakat yang majemuk. Di jenjang
kelas rendah sekolah dasar, menanamkan sikap toleran sejak dini menjadi salah
satu upaya strategis untuk membentuk karakter anak yang inklusif dan penuh
empati.
Pada
usia kelas rendah (kelas I–III), anak-anak sedang berada dalam masa pembentukan
identitas sosial awal. Mereka mulai belajar tentang “aku dan orang lain”,
membedakan perbedaan, dan meniru sikap yang mereka lihat di lingkungan sekitar.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai pengajar
materi, tapi juga sebagai model sikap toleran. Guru dapat memanfaatkan
pendekatan pembelajaran tematik integratif untuk mengaitkan nilai-nilai
toleransi dengan pengalaman sehari-hari siswa, seperti berbagi, bekerja sama
dalam kelompok, atau menerima pendapat teman.
Kegiatan
sederhana seperti bermain peran, membaca cerita rakyat dari berbagai daerah,
hingga membuat proyek kelas tentang keberagaman budaya di Indonesia dapat
membantu siswa memahami bahwa perbedaan bukan halangan untuk bersatu, melainkan
kekayaan yang patut dihargai. Selain itu, lingkungan kelas yang aman dan
menghargai setiap suara akan membantu siswa belajar mengekspresikan diri dan
menghormati perbedaan secara alami.
Menanamkan
toleransi sosial tidak membutuhkan pendekatan yang rumit, melainkan kesadaran
yang konsisten dalam setiap interaksi dan kegiatan pembelajaran. Dengan pembiasaan
yang tepat, guru mampu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara
kognitif, tetapi juga bijak dalam bersikap terhadap keberagaman.
###
Penulis: Sevian Ageng
Wahono
Dokumentasi: Freepik