Menelusuri Jejak Pedagogi Keberlanjutan untuk Menghadapi Ketidakpastian Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ketidakpastian global yang dipicu oleh krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan disrupsi teknologi menuntut arah pendidikan yang lebih berorientasi pada keberlanjutan hidup. Pedagogi keberlanjutan bukan sekadar mengajarkan teori lingkungan di dalam kelas, melainkan menanamkan kesadaran etis tentang hubungan antara manusia dan alam semesta. Kita perlu membekali generasi mendatang dengan pemahaman sistemik agar mereka mampu melihat dampak dari setiap tindakan terhadap ekosistem global secara menyeluruh. Pendidikan harus bertransformasi menjadi laboratorium solusi bagi permasalahan nyata yang mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi yang kian menua ini. Refleksi Januari ini menjadi momentum krusial untuk menakar sejauh mana institusi pendidikan kita telah mengintegrasikan nilai-nilai kelestarian dalam praktik kesehariannya. Warisan terbaik bagi anak cucu kita bukan hanya tumpukan pengetahuan, melainkan bumi yang layak huni dan kecakapan untuk menjaganya.
Implementasi pedagogi keberlanjutan mengharuskan adanya perubahan mendasar dalam cara kita menyusun materi ajar dan metode penyampaiannya kepada para peserta didik. Siswa tidak lagi hanya menghafal siklus air, tetapi diajak untuk merancang sistem pengelolaan limbah yang efektif di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal. Pembelajaran berbasis proyek yang berfokus pada masalah lingkungan dapat menumbuhkan empati serta tanggung jawab sosial yang sangat tinggi dalam diri siswa. Kita harus melatih mereka untuk berpikir secara sirkular dan meninggalkan pola pikir linier yang cenderung eksploitatif terhadap sumber daya alam yang ada. Pendidikan keberlanjutan juga mencakup aspek keadilan sosial, di mana siswa diajarkan untuk menghargai hak-hak generasi mendatang atas lingkungan yang sehat. Dengan cara ini, sekolah menjadi tempat persemaian bagi para aktivis dan inovator hijau yang memiliki kepedulian tulus terhadap masa depan.
Guru memegang peranan sentral sebagai agen perubahan yang mampu menginspirasi gaya hidup berkelanjutan melalui keteladanan yang konsisten di ruang publik sekolah. Pendidikan keberlanjutan akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti di level kognitif tanpa ada perubahan perilaku yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidik perlu mengintegrasikan konsep ekonomi hijau dan energi terbarukan ke dalam berbagai disiplin ilmu guna memberikan wawasan yang komprehensif kepada siswa. Tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga semangat ini agar tetap menyala di tengah arus konsumerisme yang sangat kuat melanda masyarakat modern saat ini. Diperlukan kolaborasi erat antara sekolah, pemerintah, dan sektor industri untuk menciptakan ekosistem yang mendukung praktik-praktik ramah lingkungan secara konsisten. Hanya dengan sinergi yang kuat, kita dapat membentuk karakter generasi yang mampu beradaptasi sekaligus menjadi pemecah masalah krisis ekologi.
Selain itu, literasi keberlanjutan juga harus mencakup kemampuan untuk mengelola risiko di tengah situasi dunia yang semakin sulit diprediksi secara akurat. Generasi mendatang perlu memiliki resiliensi atau ketangguhan untuk tetap bertahan dan bangkit kembali dari berbagai bencana atau krisis global yang mungkin terjadi. Pendidikan harus mengajarkan keterampilan hidup praktis seperti pertanian perkotaan, manajemen sumber daya air, hingga literasi kebencanaan yang berbasis pada kearifan lokal. Kita tidak boleh membiarkan mereka menjadi generasi yang hanya pintar di atas kertas tetapi gagap saat harus berhadapan dengan realitas alam. Kesadaran akan keterbatasan sumber daya bumi harus menjadi dasar bagi setiap pengambilan keputusan politik maupun ekonomi di masa depan nanti. Inilah yang akan menentukan apakah peradaban kita akan terus berlanjut atau justru berakhir karena ketidaktahuan kita sendiri dalam mengelola alam.
Sebagai refleksi penutup, mari kita tanyakan pada diri sendiri mengenai apa yang benar-benar kita persiapkan bagi mereka yang akan mewarisi planet ini. Pendidikan keberlanjutan adalah bentuk janji moral kita kepada masa depan bahwa kita tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah kerusakan. Mari kita jadikan setiap kurikulum sebagai panduan untuk hidup selaras dengan alam tanpa harus mengorbankan kesejahteraan manusia yang bersifat jangka panjang. Keberhasilan pendidikan tidak lagi diukur dari seberapa banyak kekayaan yang bisa dihasilkan, melainkan dari seberapa lestari alam yang bisa kita pertahankan. Warisan berupa pedagogi keberlanjutan adalah investasi terbaik untuk memastikan bahwa api kehidupan akan tetap menyala bagi generasi-generasi setelah kita. Mari kita bergerak bersama untuk mewujudkan pendidikan yang hijau, cerdas, dan penuh dengan rasa tanggung jawab terhadap masa depan dunia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.