MITIGASI RISIKO LINGKUNGAN: PEMANFAATAN DATA CUACA UNTUK KEBERLANJUTAN INFRASTRUKTUR SEKOLAH
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dampak perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrem menuntut pengelola pendidikan untuk memiliki strategi mitigasi risiko yang lebih matang guna melindungi infrastruktur dan warga sekolah sesuai SDGs poin ke-13. Pemantauan rutin terhadap informasi cuaca harian kini menjadi bagian dari prosedur keselamatan operasional di banyak sekolah, terutama di daerah yang rawan banjir atau tanah longsor. Melalui akses data prakiraan cuaca besok yang tersedia secara daring, pihak sekolah dapat melakukan langkah preventif seperti membersihkan saluran air atau mengamankan dokumen penting sebelum hujan lebat terjadi. Kesiapsiagaan ini sangat penting untuk mencegah kerusakan aset pendidikan yang dapat mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar dalam jangka waktu yang lama.
Edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekolah agar tetap asri dan tahan terhadap perubahan iklim dilakukan melalui kampanye visual menggunakan Canva. Siswa diajarkan membuat poster tentang larangan membuang sampah sembarangan dan pentingnya menanam pohon di lingkungan sekolah sebagai upaya menyerap karbon dan mencegah erosi tanah secara alami. Hasil desain siswa tersebut kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp Web sekolah agar pesan pelestarian alam sampai kepada orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah. Melalui cara ini, sekolah berperan sebagai agen perubahan lingkungan yang memberikan dampak positif bagi ekosistem lokal sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab pada generasi muda sejak dini.
Pemanfaatan platform YouTube untuk menonton dokumenter mengenai inovasi bangunan sekolah ramah lingkungan di berbagai belahan dunia memberikan inspirasi bagi pengembangan fasilitas pendidikan nasional di masa depan. Siswa dapat mempelajari bagaimana negara-negara maju menggunakan panel surya dan sistem pemanenan air hujan untuk menjaga keberlanjutan energi di sekolah dengan bantuan fitur Google Translate untuk teks terjemahannya. Pengetahuan ini sangat relevan untuk membekali siswa dengan pemikiran solutif terhadap tantangan lingkungan yang akan mereka hadapi di masa depan. Dengan bimbingan dari ChatGPT, siswa juga dapat merancang proyek sains sederhana yang bertujuan mencari solusi lokal terhadap masalah polusi atau pengelolaan sampah di lingkungan sekolah mereka sendiri.
Dalam kondisi darurat akibat cuaca buruk yang merusak fasilitas sekolah, dana bantuan sosial pendidikan seperti PIP dapat menjadi penopang bagi siswa untuk tetap memiliki perlengkapan belajar yang layak. Melalui layanan cek PIP yang bisa diakses secara daring, orang tua dapat memastikan ketersediaan dana bantuan guna mengganti buku atau seragam yang rusak akibat musibah alam yang tak terduga. Keberadaan sistem PIP Kemendikdasmen yang handal memberikan ketenangan bagi keluarga siswa bahwa negara hadir memberikan dukungan di masa sulit agar pendidikan anak tidak terhenti. Sinergi antara teknologi informasi lingkungan dan perlindungan sosial menciptakan sistem pendidikan yang tangguh (resilient) dalam menghadapi berbagai guncangan eksternal yang dinamis di era krisis iklim.
Secara strategis, ketahanan infrastruktur pendidikan yang didukung oleh literasi lingkungan warga sekolah adalah kunci bagi keberhasilan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional. Kita harus terus mendorong integrasi data lingkungan ke dalam sistem manajemen sekolah agar setiap keputusan yang diambil berbasis pada bukti ilmiah dan data yang akurat demi keselamatan bersama. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum akademik, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar hidup selaras dengan alam dan memanfaatkan teknologi untuk melindungi bumi bagi generasi yang akan datang. Masa depan Indonesia yang hijau dan berkelanjutan dimulai dari langkah kecil di sekolah-sekolah yang melek teknologi, peduli lingkungan, dan responsif terhadap perubahan alam yang terjadi di sekitar kita.
###
Penulis: Anisa Rahmawati