MODERASI BERAGAMA DAN HARMONI NATAL DI ERA DIGITAL: DIGITALISASI DOA DAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Peringatan hari besar keagamaan seperti Natal dan momen spiritual penting lainnya kini semakin berwarna dengan sentuhan teknologi digital yang menyatukan. Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang sangat luas, platform seperti YouTube menjadi ruang yang sangat efektif bagi tokoh-tokoh agama untuk menyebarkan pesan perdamaian dan moderasi beragama yang sejalan dengan poin SDGs nomor 16 tentang perdamaian dan keadilan. Video-video khotbah, lagu-lagu pujian, hingga dokumentasi kegiatan sosial kini dapat diakses secara luas tanpa batas geografis, memungkinkan masyarakat untuk saling mengenal dan menghargai tradisi agama lain dengan lebih baik. Hal ini sangat penting dalam membangun kohesi sosial di lingkungan pendidikan yang multikultural agar tercipta kerukunan yang abadi.
Bagi umat Islam, mencari referensi mengenai ibadah seperti doa buka puasa Rajab atau niat buka puasa kini dapat dilakukan dengan sangat mudah melalui mesin pencarian digital. Penggunaan alat bantu seperti Google Translate juga sangat membantu para santri dan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri untuk memahami teks-teks keagamaan dari literatur klasik ke dalam bahasa Indonesia dengan cepat. Digitalisasi teks-teks suci dan doa ini memastikan bahwa nilai-nilai spiritual tetap relevan dan mudah dijangkau oleh generasi muda atau milenial yang sangat lekat dengan penggunaan gadget dalam keseharian mereka, sekaligus memperkuat literasi keagamaan yang moderat.
Saat momentum perayaan Natal, koordinasi berbagai kegiatan di gereja maupun program bakti sosial di sekolah-sekolah seringkali diatur melalui efisiensi yang ditawarkan oleh WhatsApp Web. Penggunaan platform komunikasi ini memudahkan distribusi jadwal ibadah, koordinasi pengamanan, hingga pembagian tugas panitia hari besar secara transparan dan cepat. Selain itu, ucapan selamat dan pesan-pesan damai antarumat beragama dapat disebarkan secara instan melalui grup-grup komunikasi, yang secara tidak langsung mempererat tali persaudaraan kebangsaan. Dalam konteks pendidikan nasional, hal ini merupakan praktik nyata dari pendidikan toleransi yang diajarkan sejak dini untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.
Pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan adalah kunci utama untuk mencapai masyarakat yang berkelanjutan dan harmonis. Ketika teknologi digunakan untuk menyebarkan konten-konten positif, seperti video inspiratif tentang indahnya berbagi di hari Natal atau keutamaan dalam membaca doa buka puasa, maka teknologi tersebut berfungsi sebagai akselerator budi pekerti bangsa. Sekolah-sekolah saat ini banyak memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan kegiatan dialog lintas iman, menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah laboratorium toleransi yang sukses. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap citra positif pendidikan dan sosial nasional di mata masyarakat internasional.
Integrasi teknologi dalam kehidupan beragama bukan berarti mengurangi nilai kesakralan dari ibadah itu sendiri, melainkan justru memperluas jangkauan kebermanfaatannya bagi sesama. Dengan akses yang sangat mudah ke berbagai panduan doa atau materi edukasi keagamaan lainnya, masyarakat menjadi lebih teredukasi dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoaks yang bersifat memecah belah persatuan. Di masa depan, diharapkan sinergi antara iman yang kuat, ilmu pengetahuan yang luas, dan pemanfaatan teknologi dapat terus terjaga dengan seimbang. Hal ini akan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual melalui bantuan ChatGPT, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial demi tercapainya target pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.
###
Penulis: Anisa Rahmawati