Nasionalisme di Era Global: Bahasa Inggris vs Cinta Tanah Air?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kebijakan
Bahasa Inggris wajib di SD memicu kekhawatiran klasik tentang memudarnya rasa
nasionalisme di kalangan generasi muda yang terpapar budaya global. Sebagian
masyarakat beranggapan penguasaan bahasa asing yang terlalu dini dapat
melemahkan kebanggaan anak terhadap bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Namun,
paradigma nasionalisme abad ke-21 menuntut sudut pandang baru: mencintai tanah
air berarti mampu mengharumkan nama bangsa di dunia dengan penguasaan alat
komunikasi global.
Sejarah mencatat para
pendiri bangsa adalah individu-individu poliglot yang menguasai banyak bahasa
asing namun tetap memiliki patriotisme luar biasa. Penguasaan Bahasa Inggris di
SD tidak boleh dilihat sebagai pengkhianatan identitas, melainkan upaya memperkuat
kedaulatan bangsa dalam arus informasi dunia. Siswa yang cakap bahasa asing
akan lebih mampu melakukan "kontra-narasi" terhadap stigma negatif
mengenai Indonesia yang sering beredar di media internasional.
Tantangan bagi kurikulum
baru ini adalah bagaimana mengintegrasikan nilai kepahlawanan dan budaya
nusantara ke dalam materi pengajaran Bahasa Inggris. Sebagai contoh, siswa
dapat diajarkan menceritakan sejarah perjuangan bangsa menggunakan Bahasa
Inggris untuk audiens global. Dengan demikian, bahasa asing berfungsi sebagai
alat menyebarkan kecintaan pada tanah air, bukan sebagai pintu masuk untuk
mengagung-agungkan budaya asing secara berlebihan.
Peran orang tua sangat
penting dalam memberikan pemahaman bahwa Bahasa Inggris hanyalah keterampilan
fungsional, sementara jati diri tetaplah Indonesia. Tidak perlu ada
pertentangan antara kefasihan bahasa asing dan kecintaan pada bahasa nasional
jika keduanya diajarkan dengan porsi yang tepat. Nasionalisme yang kuat adalah
nasionalisme yang inklusif, percaya diri, dan tidak takut terhadap perubahan
serta dinamika dunia.
Pada akhirnya, Bahasa
Inggris wajib di SD adalah sarana untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa
yang disegani di mata dunia. Generasi masa depan harus dipersiapkan menjadi
warga dunia yang tetap berakar pada nilai-nilai Pancasila. Dengan penguasaan
bahasa global, mereka tidak akan mudah dipengaruhi secara negatif, melainkan
justru mampu mempengaruhi dunia dengan nilai-nilai luhur dan kearifan bangsa
kita sendiri.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah