“Nol Sekolah Rusak” 2026: Misi Ambisius atau Sekadar Mimpi?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Target ambisi pemerintah untuk mencapai “Nol Sekolah Rusak” pada tahun 2026 menjadi sorotan publik. Janji ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah mungkin merealisasikan target tersebut dalam waktu yang relatif singkat? Kondisi infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan di berbagai daerah menjadi tantangan utama. Banyak sekolah yang atapnya bocor, dindingnya retak, dan fasilitas sanitasi yang tidak memadai.
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk program ini, namun efektivitas penggunaan anggaran tersebut masih menjadi perhatian. Proses birokrasi yang panjang dan potensi dana dapat menghambat pelaksanaan program di lapangan. Selain itu, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi kunci keberhasilan.
Di sisi lain, beberapa pihak optimis bahwa target ini dapat dicapai melalui kerja keras dan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait. Beberapa daerah telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam memperbaiki kondisi sekolah-sekolah yang rusak. Penggunaan teknologi dan inovasi dalam proses perbaikan juga dapat mempercepat pencapaian target.
Namun, tanpa evaluasi yang komprehensif dan perencanaan yang matang, target “Nol Sekolah Rusak” hanya akan menjadi mimpi belaka. Pemerintah perlu melibatkan semua pihak terkait, termasuk guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program. Transparansi dan akuntabilitas juga menjadi kunci untuk memastikan bahwa anggaran digunakan secara efektif dan efisien.
Pada akhirnya, keberhasilan program “Nol Sekolah Rusak” tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang diperbaiki, tetapi juga dari peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sekolah yang aman dan nyaman akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa, sehingga mereka dapat mencapai prestasi yang lebih baik. Oleh karena itu, program ini harus menjadi prioritas utama pemerintah.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah