Pembelajaran Berbasis Komunitas: SD Sebagai Pusat Kolaborasi Sosial dan Budaya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sekolah dasar bukan
hanya tempat untuk belajar berhitung, menulis, dan membaca, tetapi juga tempat
di mana karakter sosial dan budaya anak dibentuk sejak dini. Pembelajaran
berbasis komunitas menganggap sekolah sebagai bagian integral dari kehidupan
masyarakat dan bukan entitas terpisah. Metode ini memungkinkan siswa untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan sekitar mereka melalui
kegiatan nyata, seperti gotong royong, belajar dari orang-orang lokal, atau
mempelajari budaya lokal. Pembelajaran seperti ini menumbuhkan rasa memiliki
terhadap lingkungan sosial dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang kian
hilang dalam modernisasi.
Ketika sekolah dasar menjadi pusat
kolaborasi sosial dan budaya, maka dinding sekolah seolah terbuka bagi
masyarakat. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan; orang tua,
pelaku seni, petani, pengrajin, hingga perangkat desa bisa ikut berperan
sebagai “guru kehidupan”. Siswa belajar langsung dari sumbernya—tentang cara
menanam, membuat batik, memainkan alat musik tradisional, atau melestarikan
kearifan lokal. Kegiatan semacam ini tidak hanya memperkaya wawasan anak,
tetapi juga memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas. Di sisi lain,
masyarakat pun merasa memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak di
lingkungannya.
Lebih jauh, pembelajaran berbasis
komunitas memberi kesempatan bagi siswa untuk berlatih berpikir kritis dan
berkolaborasi dalam konteks nyata. Anak belajar menghargai perbedaan, bekerja
sama dalam kelompok, serta memahami pentingnya solidaritas sosial. Sekolah
dasar yang menghidupkan semangat kolaboratif semacam ini akan menjadi pusat
tumbuhnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakar
kuat pada nilai-nilai sosial dan budaya bangsanya. Dengan demikian, pendidikan
di SD tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menjadi gerakan bersama untuk
membangun masyarakat yang berpengetahuan, peduli, dan berbudaya.
###
Penulis: Sabila Widyawati
Dokumentasi: Pinterest