Pendidikan Lingkungan vs Krisis Iklim: Mengapa Masih Berada di Pinggiran Kurikulum Sekolah?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perjuangan antara pendidikan lingkungan dan krisis iklim telah menjadi perdebatan yang semakin mendesak di dunia pendidikan. Di satu sisi, krisis iklim menuntut agar sekolah segera mengambil tindakan dengan memberikan pendidikan lingkungan yang komprehensif untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Di sisi lain, pendidikan lingkungan masih berada di pinggiran kurikulum sekolah, dengan perhatian dan dukungan yang sangat terbatas dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang dianggap lebih penting.
Posisi pendidikan lingkungan di pinggiran kurikulum terlihat dari berbagai indikator. Di tingkat nasional, pendidikan lingkungan tidak termasuk dalam ujian nasional atau penilaian standar lainnya, sehingga tidak menjadi prioritas bagi sekolah dan siswa. Di tingkat sekolah, materi lingkungan hanya diberikan dalam bentuk yang sangat dasar dan tidak terstruktur, seringkali hanya sebagai tambahan dalam mata pelajaran IPA atau IPS. Di Kota Malang, banyak sekolah yang tidak memiliki rencana pembelajaran khusus untuk pendidikan lingkungan, sehingga penyampaian materi tergantung pada minat dan kemampuan guru masing-masing. Akibatnya, pemahaman siswa tentang masalah lingkungan dan perubahan iklim sangat terbatas dan tidak cukup untuk mengubah perilaku mereka.
Beberapa faktor menyebabkan pendidikan lingkungan tetap berada di pinggiran kurikulum. Pertama, sistem pendidikan yang masih berorientasi pada ujian membuat sekolah fokus pada mata pelajaran yang diuji, sementara pendidikan lingkungan yang tidak diuji dianggap tidak penting. Kedua, kurangnya kebijakan yang jelas dan tegas dari pemerintah tentang posisi pendidikan lingkungan dalam kurikulum nasional. Meskipun terdapat peraturan tentang pendidikan lingkungan, implementasinya di tingkat sekolah masih sangat lemah. Ketiga, kurangnya sumber daya dan fasilitas yang diperlukan untuk mengajarkan pendidikan lingkungan dengan efektif, seperti buku pelajaran yang relevan, peralatan praktikum, dan area lapangan yang sesuai. Keempat, kurangnya kesadaran di kalangan guru, orang tua, dan siswa tentang pentingnya pendidikan lingkungan sebagai solusi terhadap krisis iklim.
Di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, posisi pendidikan lingkungan di pinggiran kurikulum menjadi masalah yang semakin serius mengingat kerentanan daerah ini terhadap perubahan iklim. Provinsi ini memiliki banyak daerah pesisir yang rawan terhadap kenaikan permukaan laut, daerah pedesaan yang bergantung pada pertanian yang sangat terpengaruh oleh perubahan pola cuaca, dan kota-kota yang menghadapi masalah polusi dan sampah yang semakin parah. Padahal, dengan pendidikan lingkungan yang menjadi bagian inti kurikulum, siswa dapat diajarkan tentang cara mengatasi masalah ini dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di daerah mereka.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah