Pendidikan Lingkungan yang Terjebak Formalitas di Tengah Darurat Iklim
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Krisis iklim telah mengubah cara manusia memandang masa depan, dari yang semula penuh optimisme menjadi sarat kecemasan. Fenomena alam yang semakin ekstrem memaksa manusia menyadari bahwa relasi dengan lingkungan tidak lagi bisa dijalani secara serampangan. Dalam kondisi ini, ruang belajar seharusnya berperan sebagai ruang refleksi kritis terhadap krisis ekologis. Namun kenyataannya, pendidikan lingkungan masih sering terjebak pada formalitas tanpa kedalaman makna. Ia hadir sebagai simbol kepedulian, bukan sebagai sarana transformasi cara berpikir. Pendekatan yang normatif membuat isu iklim kehilangan daya guncangnya. Akibatnya, kesadaran ekologis tumbuh dangkal dan mudah luntur. Darurat iklim pun berhadapan dengan pendidikan yang belum sepenuhnya berani berubah.
Banyak materi lingkungan disampaikan dengan pola satu arah yang menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi pasif. Cara ini tidak memberi ruang bagi proses berpikir kritis dan reflektif. Isu kompleks seperti krisis iklim membutuhkan dialog, bukan sekadar penjelasan. Ketika pembelajaran tidak membuka ruang tanya dan gugatan, pemahaman menjadi statis. Pendidikan lingkungan akhirnya hanya menjadi pengulangan wacana yang sudah dikenal. Tanpa dinamika berpikir, kesadaran sulit berkembang.
Krisis iklim juga menuntut kemampuan memahami keterkaitan antara aktivitas manusia dan dampaknya terhadap alam. Namun pembelajaran sering memisahkan isu lingkungan dari realitas sosial dan ekonomi. Akibatnya, peserta didik kesulitan melihat hubungan antara pilihan hidup sehari-hari dengan kerusakan ekologis. Lingkungan dipersepsikan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Padahal krisis iklim adalah hasil dari sistem yang kompleks dan saling terkait. Tanpa pemahaman relasional, solusi yang dibayangkan pun cenderung simplistik.
Pendidikan lingkungan yang hanya bersifat informatif tidak cukup untuk menghadapi krisis yang bersifat struktural. Pengetahuan tentang perubahan iklim perlu diiringi dengan pembentukan nilai dan sikap. Ketika pembelajaran tidak menyentuh dimensi etis, kepedulian menjadi rapuh. Peserta didik mungkin tahu apa yang salah, tetapi tidak merasa perlu bertindak. Inilah celah besar antara pengetahuan dan tindakan. Krisis iklim membutuhkan pendidikan yang mampu menjembatani keduanya.
Selain itu, pendidikan lingkungan sering kali tidak memberi ruang pada pengalaman lokal. Padahal setiap wilayah memiliki persoalan ekologis yang khas dan relevan. Mengabaikan konteks lokal membuat pembelajaran terasa jauh dan tidak membumi. Ketika isu lingkungan dihadirkan dari tempat yang abstrak, keterlibatan emosional menjadi rendah. Pembelajaran yang kontekstual justru dapat memperkuat rasa tanggung jawab. Tanpa konteks, pesan lingkungan kehilangan kekuatannya.
Pendidik berada pada posisi strategis untuk mengubah arah pembelajaran lingkungan. Namun mereka sering terhambat oleh struktur pembelajaran yang kaku. Inovasi dan pendekatan kritis tidak selalu mendapatkan dukungan yang memadai. Padahal krisis iklim menuntut keberanian untuk keluar dari pola lama. Ruang belajar perlu menjadi tempat eksperimen gagasan baru. Tanpa keberanian ini, pendidikan akan terus tertinggal dari realitas.
Menjadikan pendidikan lingkungan sebagai inti pembelajaran adalah langkah mendesak di tengah darurat iklim. Ia harus bergerak melampaui formalitas menuju pembentukan kesadaran kritis. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan tentang alam, tetapi juga tentang tanggung jawab moral terhadapnya. Jika ruang belajar gagal melakukan transformasi ini, maka ia turut memperpanjang krisis. Masa depan membutuhkan pendidikan yang berani berpihak pada keberlanjutan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah